Tamatnya Zaman Penjajahan (3)

Lapangan Waqfiyah itu sudah penuh dibanjiri pemuda-pemuda. Tiap Jum’at petang, pemuda-pemuda anggota Ansor berkumpul di sana, untuk mengadakan latihan baris berbaris, belajar huruf morse, yaitu pembicaraan melalui isyarat bendera atau bunyi pluit (sempritan), dan juga belajar memberi pertolongan pertama dalam kecelakaan. Mereka tergabung dalam satu barisan yang dipecah menjadi pasukan-pasukan, dan tiap pasukan dipecah lagi menjadi regu-regu. Mereka anggota Ansor yang telah diubah statusnya dari organisasi pemuda menjadi “Gerakan Pemuda” yang berpakaian seragam. Kemeja khaki berwarna hijau, berdasi warna hijau tua dengan lambang bola dunia diikat tali dikelilingi 9 bintang berwarna putih, dan celana panjang berwarna putih. Mereka mengenakan peci pandu sewarna dengan kemejanya.

Di kalangan dunia pemuda, di sekitar tahun 1942-an terdapat bermacam-macam organisasi. Ada yang bersifat kepanduan, seperti: “Kepanduan Bangsa Indonesia” (KBI), “Sarekat Islam Afdeeling Pandu” (SIAP), “Hizbul Wathan” (HW), “Nationale-Padvindery” (Natippy), dan lain-lain. Tetapi juga ada yang bersifat gerakan pemuda, seperti: “Surya Wirawan”, “Pemuda Gerindo” (Gerakan Rakyat Indonesia), dan “Gerakan Pemuda ANSOR”, yang kemudian diubah menjadi “Barisan Ansor Nahdhatul Ulama” (BANU).

Di kotaku, Sukaraja, sebuah kota kecil di Banyumas, para pemuda hampir semuanya tergabung dalam “Barisan Ansor,” “Surya Wirawan,” “Pemuda Gerindo”, “Hizbul Wathan”, dan “Kepanduan Bangsa Indonesia.” Akan tetapi, yang paling besar jumlah anggotanya adalah “Barisan Ansor.” Mereka terdiri dari hampir seluruh lapisan pemuda. Para santri, tukang gambar, tukang gunting rambut, para pedagang kecil, pemuda tani, buruh pabrik, dan sebagainya.

Dengan lahirnya “Barisan Ansor” maka terjadilah semacam suatu revolusi di kalangan pemuda desa. Mereka yang selama hidup tidak pernah mengenakan celana panjang, mendadak sontak tampil mengenakan celana di samping berkain sarung. Banyak terjadi hal yang lucu-lucu. Mereka masih malu-malu mengenakan celana. Jika hendak pergi ke tempat latihan, dari rumah sudah mengenakan celana, tetapi di luarnya tetap memakai kain sarung. Baru setelah tiba di tempat latihan, bila dilihat sudah mulai banyak teman-temannya yang bercelana, barulah mereka menanggalkan kain sarungnya dan celana sudah siap dikenakan.

Dalam kursus-kursus maupun latihan dipergunakan bahasa pengantar, bahasa Indonesia. Namun karena masih banyak di antara mereka yang kurang memahami bahasa persatuan ini, maka uraian diselang-seling bahasa Indonesia campur Jawa Kromo. Bahkan tempat duduk pun mengalami suatu revolusi. Mereka masih enggan duduk di atas kursi, kebiasaan duduk di atas tikar.

Suatu ketika kami mengadakan perayaan Maulid Nabi. Untuk menentukan macam apa tempat duduknya, apakah tetap di atas lantai ataukah di atas kursi, hampir saja perayaan menjadi urung. Sebagian menghendaki tetap di atas lantai, sebagian yang lain menghendaki kemajuan, yaitu di atas kursi. Lalu dipungut suara, sama kuat. Masing-masing pihak mempertahankan pendiriannya. Hingga sudah mulai banyak yang mengambil sikap meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Untunglah, aku selaku pemimpin mereka, menemukan suatu pemikiran. Aku usulkan:
kedua-duanya kami pergunakan. Yaitu, di waktu membaca Al-Qur’an dan Kitab Barzanji, kami semua duduk di atas tikar atau lantai. Nanti pada saat mendengarkan pidato-pidato, kami duduk di atas kursi. Usulku diterima, setelah masing-masing memberikan toleransinya. Menggelikan juga. Tatkala tiba saatnya pidato-pidato dan semuanya mulai menduduki kursinya masing-masing, mereka saling memandang dan senyum, ada juga yang cekikikan merasa ada sesuatu yang terasa lucu. Katanya, tak enak duduk di atas kursi, malu. Orang sudah dewasa kok seperti … anak mau disunat! Ada juga yang diam-diam meninggalkan kursinya, ngeloyor duduk di lantai kembali. Untung bisa segera ditertibkan. Jangan ditanya lagi kalau sedang memasang dasi masing-masing, kelihatannya seperti kursus mengenakan dasi saja. Maklumlah, selama hidupnya tak pernah mengenakan tali leher. Kami, dari kelompok pimpinan, mengawasi mereka dengan terharu.

“Lihatlah, pemuda-pemuda kita ini anak dari zamannya. Selama hidupnya, barulah kali ini memakai celana panjang dan dasi,” tiba-tiba saja Suhada, ketua cabang membuka percakapan.

“Benar, anak zamannya!” jawabku, “tiap zaman mempunyai anak-anaknya. Mereka korban dari keterbelakangan.”

“Kita merasakan keterbelakangan akibat politik kolonial, kita dibikin bodoh,” menyela Suhaimi, sekretaris cabang.

“Tidak dinyana, pemuda-pemuda santri kini baris berbaris. Akan lenyap nanti cemooh orang seolah-olah santri cuma pandai menanak nasi,” sambung Haji Masruri, bendahara cabang.

“Bisakah kita menandingi kemajuan KBI dan Surya Wirawan?” sela Muhammad Ridwan, wakil ketua cabang.

“Sekarang saja kita sudah sejajar!” kataku, “padahal kita berpangkal tolak dari asal yang berbeda. Mereka pemuda-pemuda yang telah terdidik dari lingkungannya dan dari sekolahnya, sedang pemuda-pemuda kita ini, anak-anak rakyat yang buta huruf dan tidak mengenal bangku sekolah. Selangkah lagi kita sudah berada di depan mereka!” kataku meyakinkan mereka.

“Begini banyak pemuda-pemuda yang datang berlatih. Kita tidak bisa lagi berlatih dalam satu tempat,” kata Suhada sambil berdiri memperhatikan anak-anak sedang baris-berbaris.

“Saya sudah usulkan kepada Ismail, kepala barisan, agar Jum’at depan mulai dipecah sedikitnya menjadi tiga tempat. Satu di sini, satu lagi di lapangan IWS, dan satu lagi di lapangan Tallumul-Huda,” Muhammad Ridwan menyambut pembicaraan.

“Akhir-akhir ini semakin membanjir pemuda-pemuda mendaftarkan diri menjadi anggota. Apakah hal ini disebabkan karena timbulnya kesadaran untuk maju, ataukah karena takut dijadikan milisi oleh Belanda?” tiba-tiba Suhaimi menanya. la sekretaris cabang, tahu benar tentang banyaknya pemuda-pemuda yang mendaftarkan diri menjadi anggota Ansor.

“Karena dua-duanya!” jawabku, “apa yang kita usahakan selama ini tidaklah sia-sia. Suatu kebangkitan telah timbul bahwa kita harus bangun dan maju. Tetapi juga karena. pemuda-pemuda ini tidak sudi menjadi alat kolonial, dijadikan umpan peluru Jepang.”

“Apakah sudah ada kepastian bahwa anggota-anggota Ansor dibebaskan dari dinas milisi Belanda?” Suhada bertanya kepadaku.

“Sudah! Aku sudah jelaskan kepada pihak kepolisian Karesidenan beberapa hari yang lalu bahwa pucuk pimpinan telah memperoleh kesanggupan Gubernur Jenderal, bahwa anggota kepanduan dan pemuda-pemuda yang sedang belajar dibebaskan dari kewajiban dinas milisi. Aku jelaskan kepada mereka bahwa Ansor ini ya tergolong kepanduan ya tergolong pemuda pelajar karena mereka kaum santri,” demikian kataku menjelaskan.

“Ya, tapi kalau kita dipaksa harus masuk milisi, misalnya dijadikan Stadswacht bagaimana?” Muhammad Ridwan menyela.

“Belanda juga pikir-pikir,” jawabku, “mengadakan milisi itu, artinya menambah anggaran belanja. Kini hubungan Hindia Belanda dengan Nederland putus, dengan sendirinya subsidi kerajaan tak bakal datang lagi. Sedang kekuatan ekonomi Hindia Belanda akibat ancaman perang Jepang bertambah payah. Paling-paling kita cuma dipaksa harus menjadi anggota Stadswacht, itu pun Belanda masih harus pikir 12 kali.”

Haji Masruri yang sejak tadi diam saja, lalu mengajukan pertanyaan: “Stadswacht itu apa tugasnya?”

“Stadswacht itu artinya Pengawal Kota.’ Tugasnya menjaga keamanan kota dan jangan sampai jatuh ke tangan Jepang. Menurut hematku, Belanda tentu hanya menyerahkan tugas ini kepada golongan yang mereka percayai. Jelas kita ini tidak termasuk yang dipercayai mereka. Mereka sebenarnya mencurigai kita sebagai penyokong atau pro-Jepang, cuma mereka belum menemukan bukti-bukti,” aku menerangkan.

“Kita ini kan pro-Jepang?” Suhaimi ingin tahu pendirianku. Aku paham, ia sedang memancing aku.

“Begini! Tapi ini sangat rahasia … !” jawabku sambil aku melihat ke kiri dan ke kanan, “Waktu aku di Surabaya karena panggilan Pucuk Pimpinan untuk membicarakan masalah ini, aku juga tanyakan tentang sikap kita terhadap Jepang. Ketika itu, K.H.A. Wahid Hasyim di muka K.H. Mahfuzh Shiddiq menerangkan bahwa kita membantu Jepang dalam melepaskan kita dari belenggu penjajahan Belanda. Menghalang-halangi Jepang dan membantu Belanda tentu tidak mungkin. Tidak ada gunanya. Tetapi sikap kita seterusnya terhadap Jepang setelah mereka menguasai negeri ini, tentu lain lagi. Itu akan ditentukan nanti pada waktunya. Kita sekarang memusatkan perjuangan kita lepas dari Belanda dulu.”

Semua kami diam, terbayang di muka kami bahwa perjuangan bakal lebih dahsyat di masa mendatang. Kami semua telah berjanji untuk tidak membocorkan apa yang kami bicarakan karena akibatnya akan berat sekali. Kami semua juga telah mengikat janji untuk lebih meningkatkan kewaspadaan.

“Masihkah saudara menerima surat-surat K.H.A. Wahid Hasyim?” tiba-tiba Suhada mengalihkan kepada pembicaraan lain.

“Masih!” jawabku “kami selalu berkirim-kiriman surat. Hampir tiap minggu suratnya datang. Aku mengagumi orang ini. Begitu banyak urusannya selaku Ketua MIAI, ketua Nahdhatul Ulama bagian pendidikan, di samping mendampingi Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari memimpin Pesantren Tebuireng, tetapi masih saja mengirim surat-surat kepada teman-temannya. Semua surat-suratnya bersifat memberikan bimbingan dan petunjuk-petunjuk. Banyak menceritakan hal-hal penting yang tidak mungkin ada di surat-surat kabar.”

“Apa tidak khawatir disensor? Padahal semua surat-surat lewat pos sekarang disensor!” bertanya Suhaimi.

“Beliau cukup cerdik. Apa yang boleh ditulis lewat pos. Yang kira-kira bisa masuk ranjau, beliau kirim lewat kurir khusus,” jawabku.

“Kalau begitu, beliau mempunyai banyak kader-kader dan banyak keluarkan biaya buat kurir ke sana ke mari,” sela Haji Masruri.

“Memang benar sekali. Beliau memiliki ketajaman menilai untuk memilih siapa-siapa yang dijadikan kurir dan siapa-siapa yang diserahi tugas-tugas menghubungi banyak pemimpin. Untuk pembiayaannya, semua keluar dari kantong sendiri. Ini konsekuensinya menjadi pemimpin seperti yang pernah beliau katakan berulang-ulang, bahwa pemimpin juga harus mengeluarkan duit dari kantongnya untuk perjuangan!” aku menjelaskan.

Kami lalu beralih membicarakan tokoh K.H.A. Wahid Hasyim, bahwa beliau seorang yang memiliki kepandaian memilih orang dan menempatkannya pada tempat yang tepat. Aku katakan kepada mereka, sampai-sampai beliau mempunyai kepandaian “mens-kennis,” yakni ilmu mengenal manusia. Beliau bisa mengenal watak seseorang dari tanda tangannya, dari caranya berbicara, dari caranya merokok dan makan, sampai-sampai dari caranya seseorang tertawa pun beliau bisa menerka tentang wataknya. Beliau tidak pernah duduk di bangku sekolah yang mana pun, pendidikannya boleh dikatakan langsung dari asuhan ayahandanya sendiri, Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Tetapi beliau banyak membaca buku-buku dan mempelajari bahasa-bahasa asing. Tidak lupa pula, beliau belajar dari bergaul dengan sesama manusia, baik kawan maupun lawan.

“K.H.A. Wahid Hasyim mengeluarkan biaya-biaya untuk perjuangan, menerbitkan majalah, dan pergi ke sana ke mari, dari mana kekayaannya?” bertanya Haji Masruri. Sebagai bendahara cabang, rupanya ia tertarik tentang kekayaan seseorang. Dia sendiri pedagang batik.

“Beliau pernah katakan padaku bahwa beliau berdagang. Aku tidak tanyakan macam perdagangannya. Cuma beliau pernah katakan kepadaku bahwa menjadi pedagang banyak faedahnya. Pertama, bisa mencari rezeki dengan halal. Kedua, dari berdagang akan memiliki sifat-sifat cermat, rajin, percaya kepada diri sendiri, semangat berjuang, dan banyak bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat. Pernah dikatakan kepadaku entah suatu hadits entah ucapan ulama, bahwa 90% dari rezeki Allah terletak pada berdagang. Aku lupa menanyakan apakah itu hadits ataukah qaul ulama,” demikian aku menegaskan.

Tiba-tiba terdengar aba-aba dari pemimpin latihan, Ismail, bahwa barisan supaya berkumpul, latihan akan diakhiri. Suhada sebagai ketua cabang diminta untuk memberi nasehat dan memimpin upacara penutupan latihan. Begitu latihan ditutup, salah seorang memperdengarkan azan karena waktu maghrib telah tiba. Kami semua sembahyang maghrib berjama’ah dengan imam Muhammad Ridwan. Kecuali wakil ketua cabang, ia adalah salah seorang ustadz Madrasah Al-Huda.

Kami bersembahyang maghrib berjama’ah di Gedung Waqfiyah yang terletak di ujung lapangan yang kami pergunakan untuk latihan Ansor. Sebuah gedung yang resminya digunakan untuk tempat pertemuan (Balai Pertemuan), akan tetapi sekaligus juga mushala. Sebuah gedung sebesar 25 X 15 M, dindingnya seluruhnya tembok dan lantainya tegel. Didirikan pada tahun 1937 oleh warga Nahdlatul Ulama dengan secara gotong royong. Batu, pasir, bata-merah, dan kayu, dikumpulkan sendiri dari sungai dan membuat sendiri bangunan gedung dengan pekerja-pekerja, semuanya secara gotong royong. Modalnya sebidang tanah yang cukup luas berasal dari wakaf sebuah keluarga, oleh sebab itu maka gedung tersebut diberi nama “Gedung Waqfiyah,” artinya, sebuah gedung yang berasal dari dan berstatus wakaf.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: