Tamatnya Zaman Penjajahan (4)

Malam itu, permulaan bulan Maret 1942, benar-benar malam kelabu yang rawan. Jalan-jalan tampak sepi dan lengang, rumah-rumah penduduk gelap tanpa lampu. Sudah beberapa hari pemerintah Hindia Belanda mengumumkan keadaan dalam bahaya dan perang. Berlakulah jam malam, dan aksi pemadaman lampu penerangan. Istilahnya ketika itu LDB, singkatan dari “Lucht Beschermen Dienst” atau dinas penjagaan dari bahaya serangan udara. Tetapi rakyat menafsirkan lampu pejah Bom Dawah (lampu mati dan bom pun jatuh). Rapat-rapat dan pertemuan-pertemuan harus meminta izin penguasa. Hatta orang mengaji pun harus ada izin.

Malam itu aku berdinas menjaga gardu listrik. Pemuda-pemuda Ansor dikenakan dinas menjaga kampung, maksudku menjaga keamanan kampung. Kami masih bisa bergerombol berbincang-bincang dan mengobrol untuk mengisi malam-malam yang sepi. Karena aku mendapat tugas menjaga gardu listrik, aku bisa mondar-mandir mendatangi teman-teman yang sedang bergerombol-gerombol jaga kampung.

“Ini Belanda maunya apa? Kita disuruh duduk-duduk tidak bersenjata. Kalau nanti Jepang datang kemari dengan tank dan meriam, kita jadi apa?” temanku Sunarko, guru IWS menyeletuk mengisi kekosongan.

“Aku baca dalam koran, ketika balatentara Jepang memasuki Nanking Ibu Kota Tiongkok, jangankan rakyat biasa, tentara Tiongkok sendiri lari tunggang langgang sambil membuang senjatanya,” jawabku.

“Tapi di sini lain!” sambung Imam Supangat, anggota Ansor yang sedang jaga kampung.

“Di sini tak akan ada tentara Belanda yang lari, sebab di sini tak ada sepotong pun serdadu Belanda!” “Makanya saya memakai sarung saja. Nanti kalau Jepang datang, saya akan sambut mereka dengan ucapan Banzai, mereka lihat saya memakai sarung ‘kan tahu bahwa saya cuma rakyat biasa!” sambung Sarmidi, anggota Ansor yang lain. Kami semuanya tertawa panjang.

“Belanda ini bodoh betul,” sambung Imam Supangat, “dia mengira kita akan membantu dia, padahal kita ini anti Belanda. Atau dia sedang sekarat?”

Pembicaraan terhenti karena sekonyong-konyong berhenti di muka kami seseorang dari sepedanya. Sarmidi membisiki aku bahwa yang datang ini mantri polisi, seorang yang terkenal sangat galak. Aku sudah mulai cemas juga kalau-kalau ia menangkap pembicaraan kami. Malam itu gelap tak ada sinar lampu, kecuali kami hanya bisa memperhatikan sesuatu hanya dari cahaya bintang di langit. Tetapi dari bayangan tubuhnya, aku segera mengenali siapa orang yang turun dari sepeda ini. Segera aku menegur:

“Suhada, ya?” tegurku.

“Masya Allah, aku cari saudara di rumah, kiranya ada di sini!” benar juga terkaanku, ia Suhada, ketua cabang Ansor.

“Dari mana saudara tahu aku ada di sini?” aku membalas bertanya.

“Aku datang ke rumahmu, kata orang di rumah, saudara ada di sini,” jawabnya.

“Saudara ‘kan komisaris daerah Ansor Jawa Tengah, mengapa jaga gardu listrik di sini?” Suhada masih penasaran padaku.

“Aku ‘kan guru dan ustadz madrasah. Asisten Wedono menetapkan aku jaga gardu listrik di sini. Aku pikir baik juga, aku bisa memperoleh kesempatan tiap malam keliling mengunjungi teman-teman yang jaga kampung,” aku menerangkan.

Sarmidi yang sejak tadi ketakutan, mengira orang yang datang ini mantri polisi, menjadi lega hatinya. Sambil meninju punggung Suhada ia bertanya: “Dari mana malam begini datang kemari? Kok naik sepeda segala?”

“Kenalanku, seorang polisi datang ke rumah cari kopi, karena tak ada warung buka. Saya pinjam sepedanya sebentar karena ada urusan penting. Lalu aku kemari,” jawab Suhada. la merogoh kantong kemejaku mencari rokok, aku keluarkan sebungkus “Marikangen” dari kantongku. Masing-masing mengambil sebatang.

“Begini soalnya.” Suhada menyandarkan sepedanya, lalu katanya: “Aku sengaja mencari saudara karena ada berita penting. Itu polisi yang datang ke rumah, sebenamya tidak semata-mata mencari kopi. Kedatangannya kelihatan sangat gugup dan seperti orang ketakutan. Dia bilang bahwa adiknya yang bekerja di kereta api Cirebon datang ke rumahnya, melarikan diri. Jepang hari kemarin telah mendarat di Indramayu, sebagian menuju arah Bandung dan sebagian lagi menuju ke selatan, barangkali kemari. Pegawai kereta api pada bubar, masing-masing pulang ke kampungnya. Lha, polisi itu juga ikut ketakutan. Kelihatannya dia hendak lari juga. Dia menawarkan padaku untuk menyimpan uniform polisi di rumahku. Tentu saja saya tolak!”

“Suruh saja buang di kali!” sela Sarmidi.

Aku berpikir sejenak mengenangkan alangkah cepatnya peristiwa. Baru tanggal 1 Maret 1942 Jepang umumkan perang dengan Belanda. Ketika itu baru tanggal 3 Maret. Alangkah cepatnya Jepang mendarat di Jawa. Dari berita-berita yang sampai padaku pun mengabarkan bahwa Jepang sudah mendarat di Tuban dan bahkan dekat Semarang.

“Jadi bagaimana kalau demikian?” Amin Supangat dan Sarmidi berbareng bertanya kepadaku.

“Biar saja, Jepang toh tidak memaklumkan perang kepada Bangsa Indonesia. Yang penting bagi kita, harus dicegah terjadinya fitnah-menfitnah dari orang-orang yang menghendaki keonaran dalam masyarakat. Orang-orang yang mendendam akan menggunakan kesempatan dalam kesempitan!” aku mencoba meyakinkan teman-teman. Setelah aku diam beberapa saat, aku menemukan sebuah pikiran.

“Begini, aku ada pikiran, sebaiknya kita besok kumpul di kantor Majlis Konsul. Di sana ada Pak Mukhtar dan beberapa ulama. Kita rundingkan situasi yang genting di hadapan mereka.”

“Apa tidak lebih baik di sekolah IWS saja, toh sekolah pasti diliburkan. Kita tidak dicurigai siapa pun kalau kita berkumpul di gedung sekolah, alasan kita sedang bersiap-siap hendak meliburkan sekolah,” tiba-tiba Sunarko mengusulkan.

Kami semua menyetujui usul Sunarko. Besok pagi, kami semua akan berkumpul di gedung sekolah IWS tempatku mengajar. Pak Mukhtar dan beberapa ulama akan kami undang ke sana. Kami lalu bubar. Masing-masing melanjutkan tugas menjaga kampung. Aku dan Sunarko melanjutkan tugas menjaga gardu listtik. Aku tak mengerti lagi apa maunya Asisten Wedono, gardu listrik harus dijaga, padahal sudah beberapa hari listrik dimatikan di seluruh kota. Barangkali tugas kami agar melawan Jepang, kalau mereka datang hendak merebut gardu listrik kecil ini dengan tank dan meriamnya. Apa maunya agar aku melawan tank Jepang dengan lampu senterku, sebab cuma ini senjataku.

Sudah beberapa hari ini tak ada beras di pasaran. Daerahku terkenal sebagai gudang padi, tetapi aneh, habis panen itu beras seperti disapu setan saja. Pedagang beras luntang-lantung dengan pikulan kosong mencari kulakan beras, artinya mencari beras untuk dijual lagi, tetapi mereka tidak bisa menemukan beras. Di antaranya sudah mulai banyak yang mengganti dagangannya, menjual sayur atau apa saja yang bisa dijualbelikan.

Penduduk sudah sangat gelisah karena tidak ada lagi simpanan beras. Jangankan untuk disimpan, untuk dimakan sehari itu saja sukarnya bukan main. Ada juga dengan bisik-bisik orang memperoleh barang satu dua kaleng susu, tetapi Masya Allah, jangan ditanya lagi harganya.

Selama hidupku, baru kali itu aku mengalami bagaimana sukarnya mencari beras. Sekolah dan madrasah tempatku mengajar sudah beberapa hari ini diliburkan karena suasananya tidak memungkinkan lagi untuk belajar. Orang-orang sibuk dengan membuat lobang perlindungan seperti yang dianjurkan oleh pemerintah, tiap-tiap rumah harus membuat lobang perlindungan untuk tempat berlindung bila terdengar bunyi kentongan tanda bahaya serangan udara. Begitu terdengar kentongan atau bunyi sirene tanda ada serangan udara, masing-masing orang berlari-lari menuju ke lobang perlindungan dengan menggigit sepotong karet, maksudnya bila ada suara bom, rahang dan telinga terlindung dari sentakan suara yang memekakkan telinga. Supaya karet tidak mudah hilang, maka diikatlah pada tepinya dengan seutas benang atau tali, dan digantungkan pada leher. Lucu juga jadinya. Semua orang begitu, tak perduli laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun kakek-kakek. Begitu suara kentongan atau sirene berhenti tanda serangan udara telah dianggap selesai, orang baru teringat bahwa perutnya pada keroncongan. Mereka pergi hilir-mudik dengan panci atau bakul kosong untuk mencari beras. Yang memegang duit pun susah, apalagi yang tidak memegang barang satu sen pun. Sudah banyak orang yang mengganti menu sehari-hari, bukan lagi makan nasi, tetapi makan rebusan singkong atau pisang rebus. Tetanggaku mempunyai banyak piaraan ayam. Sudah dua hari cuma makan ayam goreng saja. Ketika baru sekali dua, ia merasa seperti raja, cuma makan ayam goreng atau opor ayam tanpa nasi. Tetapi setelah dua hari terus-menerus, perut tidak kuat lagi, mencret dia. Pikirnya, barangkali akan mati dia bukan karena kena bom Jepang, tetapi karena kebanyakan makan ayam goreng. Kasihan dia!

Hari-hari pada minggu pertama bulan Maret 1942 merupakan hari-hari paling sibuk buat Hindia Belanda. Banyak truk-truk militer penuh dengan serdadu-serdadu campuran. Ada serdadu KNIL (Belanda dan Bumiputera), ada juga serdadu Australi. Mereka bertruk-truk hilir-mudik, ke barat dan ke timur dengan muka-muka lesu dan murung. Banyak di antaranya tidak lagi memakai baju, bahkan ada yang mengenakan peci hitam. Mudah sekali diterka bahwa mereka dalam kebingungan dan ketakutan. Sesekali mereka berhenti di pinggir jalan raya, tidak jelas apa yang dikerjakan, satu dua opsir mereka tampak berunding, lalu memerintahkan iring-iringan truk berbalik haluan, lalu pergi begitu saja. Dari mulut ke mulut orang berbincang-bincang bahwa kota pelabuhan paling penting di daerah Banyumas, Cilacap, berkali-kali mengalami pemboman oleh pesawat-pesawat Jepang. Pesawat-pesawat itu membomi kota Cilacap dan sekitarnya dalam formasi yang besar, berpuluh-puluh jumlahnya.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: