Tamatnya Zaman Penjajahan (5)

Kami baru saja mengadakan pertemuan di salah satu masjid, mendengarkan laporan-laporan, dan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu. Banyak dikemukakan dalam laporan teman-teman bahwa di beberapa jalan raya diketemukan pakaian seragam serdadu KNIL dan Australi dengan beberapa senjata karaben. Tampaknya semua itu dibuang begitu saja. Dilaporkan juga bahwa kantor-kantor pemerintah terdapat kosong, tidak berpenghuni. Sementara itu, satu dua toko Cina digedor orang untuk diambil barang-barangnya.

Para kiai berkumpul untuk membicarakan situasi yang sangat tidak menentu. Sebagian berpendapat bahwa tidak dibenarkan terjadinya penggedoran-penggedoran terhadap toko-toko karena hal itu dipandang sebagai bentuk perampasan hak milik orang dalam situasi yang genting. Bisa menjurus kepada keonaran yang membahayakan keselamatan umum. Tetapi juga ada yang berpendapat bahwa hal itu boleh saja karena kita dalam keadaan perang. Sebagian berpendapat bahwa yang berperang itu bukan kita, tetapi Belanda melawan Jepang. Ada lagi yang berpendapat lain, bahwa dewasa itu sebenarnya menjadi tanggung jawab penguasa. Namun karena kekuasaan penguasa telah sangat goyah dan bahkan tidak ada lagi kekuasaan, maka dalam situasi kekosongan kekuasaan, menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga ketertiban dan keamanan umum. Tetapi bagaimanapun juga, akhirnya diambil kata mufakat bahwa dewasa itu tidak ada lagi yang bernama kekuasaan. Dalam keadaan demikian, maka kewajiban para ulama dan pemimpin masyarakat mengambil tanggung jawab ketertiban dan keamanan umum. Kita adalah rakyat. Harus dijaga kesel-matan harta bendanya dan nyawanya. Harus diambil langkah untuk membatasi sekecil mungkin terjadinya keonaran dan keributan.

Tiba-tiba kami mendengar suara sangat gemuruh dan teriakan-teriakan. Aku segera keluar dari tempat pertemuan untuk melihat apa yang terjadi. Aku melihat orang banyak berbondong-bondong menuju suatu arah. Mereka meneriakkan kata-kata yang tidak jelas. Mereka menenteng panci-panci dan bakul-bakul kosong. Aku hampiri mereka

“Saudara-saudara mau kemana?” aku berdiri menghadapi mereka.

“Mau ke kelurahan! Kita mau bongkar lumbung padi!” teriak mereka bersahut-sahutan.

Sementara itu, teman-temanku pemuda Ansor mengelilingi aku, mereka takut kalau-kalau terjadi sesuatu mengenai diriku.

“Siapa pemimpinnya?” aku bertanya dengan sopan. Aku berusaha untuk menenangkan suasana.

“Tidak ada! Ini kehendak orang banyak. Kehendak kita sendiri!” teriakan mereka semakin memekik-mekik. Aku perhatikan sepintas lalu mereka berbicara dengan emosi, tinju digenggam. Teriakan tak habis-habisnya keluar dari mulut mereka yang sudah basah oleh buih. Benar-benar suatu barisan orang lapar. Mereka tak perduli lagi akan bahaya perang. Mereka cuma memuntahkan emosinya, emosi orang-orang yang sedang lapar! Aku hampiri satu dua orang di antara mereka yang aku kenal baik. Aku pegang bahunya sambil kataku pelan:

“Saudara masih mengenai aku bukan? Siapakah aku ini?” demikian kataku bertanya untuk menenangkan hatiku yang mulai gentar juga menghadapi barisan orang-orang lapar ini.

“Kenal, siapa saudara!” jawab mereka sambil menyebut namaku. Aku merasa, sudah mulai turun temperamen mereka. Aku sudah biasa menghadapi anak-anak yang gaduh dalam kelas, tetapi menghadapi orang-orang ini lain sama sekali. Karena itu, aku juga membaca-baca doa Selawat.

“Begini, aku ada usul!” aku mengatur hatiku sendiri yang sudah mulai hilang gentarku. Sudah tambah mantap kepercayaanku pada diriku. “Kalau saudara-saudara memerlukan beras, aku pun juga memerlukannya…” Sampai di sini kata-kataku dipotong mereka dengan teriakan:

“Hidup-Hidup!”

“Dengarkan dulu kata-kataku!” aku sudah mulai berani berlagak memerintah mereka. Batinku, separo dari mereka sekurang-kurangnya sudah berada dalam genggamanku.

“Dengarkan, dengarkan! dengarkan kawan-kawan…!” bentak mereka kepada kawan-kawannya. Mereka lalu diam menunggu apa yang hendak kukatakan.

“Mari ikuti aku menemui Pak Lurah! Tapi semuanya tidak boleh ada yang berbicara. Cuma akulah nanti yang akan bicara kepada Pak Lurah. Dan tidak boleh merusak benda-benda apa pun. Semuanya harus taat di belakangku. Aku akan meminta secara ikhlas, agar Pak Lurah memberi kita beras!” “Sanggup apa tidak?” tanyaku menantang.

“Sangggguuuuuppp…!” Jawab mereka serentak sambil mengepalkan rinju mereka.

“Aku nanti akan meminta beras dengan suka rela. Tetapi tidak akan merampok. Aku tidak setuju kalian membongkar gudang padi, itu perampokan! Sanggup tidak mentaati ajakanku?” demikian aku bertanya dengan tegas. Aku merasa aku sudah bisa menguasai mereka. Aku merasa aku menjadi kuat.

“Sangggguuupppp …!” mereka berteriak serentak.

“Nah, mari ikuti aku! Tetapi harus tertib. Jangan ada yang berteriak-teriak. Semua harus kelihatan sopan,” begitu ajakanku.

Aku berjalan di muka. Satu dua orang dari mereka yang aku sudah kenal, aku ajak berjalan di muka mendampingi aku. Dan mereka mengikuti aku dari belakang. Mereka berjalan dengan tertib dan sopan. Kami tiba di kelurahan. Pak Lurah dengan dikelilingi oleh beberapa orang polisi desa dan pamong desa menjemput kedatanganku.

“Wonten punopo?” (ada keperluan apa), Pak Lurah menyambut kedatanganku. Beliau dan stafnya tampak sedikit pucat mukanya melihat begitu banyak orang-orang membawa panci-panci dan bakul-bakul kosong berada di belakangku. Aku dipersilakan duduk, dan aku meminta orang-orang di belakangku supaya tenang dan tertib, jangan ada yang teriak apa pun.

“Begini Pak Lurah!” aku mulai menata untuk memulai pembicaraan. ‘”Orang-orang ini adalah penduduk desa ini seperti Pak Lurah mengenalnya. Mereka sudah berhari-hari tidak memperoleh beras. Begitu sulitnya mencari beras. Agar supaya mereka tidak mengambil tindakan-tindakan sendiri-sendiri, dan agar tidak berbuat yang melanggar hukum, aku memberanikan diri menjadi juru bicara mereka menghadap Pak Lurah.”

“Terima kasih. Dan silakan bagaimana yang dimaksud kedatangan ini?” jawab Pak Lurah dengan sopan sekali. Aku sudah membayangkan bahwa tujuan kami insya Allah akan berhasil.

“Pak Lurah lebih tahu dari aku. Di desa ini ada lumbung padi, masih banyak padi tersimpan. Gunanya tentu saja untuk dipergunakan di waktu sangat diperlukan dalam keadaan mendesak. Orang-orang ini adalah rakyat Pak Lurah. Aku mengusulkan, apa tidak sudah waktunya bila padi milik desa ini sekarang dibagi secara adil dengan cara yang baik-baik. Misalnya, dua pertiga dibagikan kepada segenap penduduk, terutama yang sangat memerlukan. Sedang sisanya, tetap disimpan rnenjadi milik desa.”

“Kulo sepakat sanget Mas!” (Saya setuju sekali), demikian sambutan Pak Lurah dengan ramahnya. Pak Lurah dengan seluruh pamong desa lalu merundingkan cara pelaksanaannya.

Aku berpamitan setelah aku yakin bahwa pelaksanaannya akan dilakukan dalam waktu sesegera mungkin. Orang banyak menyalami aku dengan ucapan-ucapan terimakasih. Tidak lupa, Pak Lurah pun menyalami aku dengan ucapan terima kasih.

Dari kejauhan aku melihat orang berlari-lari sambil membawa barang-barang bawaan. Dari ujung jalan orang menggelindingkan ban-ban mobil yang masih terbungkus rapat. Sebagian lagi menggendong benang tenun, tekstil, dan benda-benda lain yang asing bagiku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sepanjang jalan bertambah banyak orang berkerumun, ada yang sedang membagi-bagi barang bawaannya, dan sebagian lagi berlari-lari menuju ujung jalan. Aku hampiri mereka untuk menanyakan apa yang terjadi. Kiranya mendapat jawaban bahwa beberapa orang tentara Jepang telah memasuki kota, mereka menyuruh rakyat menggedor gudang-gudang milik “Jacobson van den Berg,” milik “Escomto,” dan lain-lain maskapai perdagangan Belanda.

Bukan main hiruk-pikuknya suasana sepanjang jalan. Orang berlari-lari kian kemari sambil meneriakkan kata-kata “Jepang datang, Jepang datang” dan lain-lain kata-kata yang tidak jelas.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: