Tamatnya Zaman Penjajahan (6)

Aku menuju ke kantor Majlis Konsul Nahdhatul Ulama. Di sana telah banyak berkumpul para kiai dan tokoh-tokoh Ansor. Aku menjumpai Pak Mukhtar, Konsul Nahdhatul Ulama, untuk membicarakan situasi yang sedang terjadi. Kami telah sampai kepada suatu kesimpulan bahwa keadaan telah berubah. Keadaan sudah tak mungkin bisa terkendalikan. Kami hanya memelihara keamanan pribadi dan milik penduduk yang bisa diselamatkan. Situasi telah menjadi suatu yang tak mudah dikendalikan lagi. Hanya suatu kekuasaanlah yang bisa mengatasinya.

Sebuah pesawat terbang Dai Nippon menyebarkan surat-surat selebaran yang menyebutkan bahwa hari iru, 9 Maret 1942, pimpinan angkatan perang Hindia Belanda Mayor Jenderal Ter Poorten telah menyerah kepada Jepang, dan Gubernur Jenderal Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyerah dan ditawan Jepang.

Diserukan supaya rakyat tetap tenang dan bekerja seperti biasa.

Suatu pergantian zaman telah terjadi!

Belanda yang selama ini dengan gagahnya menepuk dada akan bertempur sampai titik darah yang penghabisan, akan melawan musuh hingga serdadu yang terakhir, ternyata telah menyerah. Semboyan mereka bahwa: Lebih baik mati berkalang tanah daripada menyerah kepada musuh, ternyata tidak dipenuhi. Hanya dalam waktu 8 hari, boleh dikata tanpa ada pertempuran dan perlawanan sekalipun, Belanda telah menyerah tanpa syarat kepada balatentara Jepang.

Sementara itu, disebarkan pamflet-pamflet dari tentara pendudukan Jepang, yang berisi perintah, agar penduduk yang menyimpan barang-barang gedoran dari gudang-gudang milik Belanda segera menyerahkan di kantor Kawedanan setempat. Siapa yang menyerahkan barang-barang itu tidak akan diambil tindakan apa-apa. Tetapi kepada mereka yang tidak mau menyerahkannya, akan diambil tindakan militer sesuai dengan hukum perang.

Maka, berbondong-bondonglah rakyat menyerahkan barang-barang gedorannya ke kantor Kawedanan. Aku tidak tahu pasti, apakah semuanya diserahkan ataukah ada sebagian yang tetap mereka simpan.

Entah perintah dari mana, rumah-rumah sepanjang jalan raya mengibarkan bendera Merah Putih. Bendera kebangsaan kita yang selama zaman Belanda haram untuk ditabarkan. Tetapi sore itu serentak saja rakyat mengibarkannya. Bendera kebangsaan ini dikibarkan untuk menyambut kedatangan bala tentara Jepang yang sebentar lagi akan memasuki kota.

Aku baru saja menyelesaikan sembahyang maghrib ketika orang-orang berlari-lari menuju pinggir jalan raya. Terdengarlah buat pertama kali kata-kata Jepang “Banzai, Banzai!” dari mulut-mulut penduduk, dengan diselingi teriakan-teriakan Hidup Nipoon! Hidup Nippon!

Tatkala aku tiba di jalan raya, dari arah timur tampak iring-iringan mobil-mobil berwarna hijau tua dengan truk-truk militer, semuanya penuh berisi serdadu-serdadu dan opsir-opsir Jepang berpakaian seragam. Mereka acuh tak acuh menyambut tepuk-sorak rakyat “Banzai, Banzai!” hanya satu dua saja yang melambaikan tangannya di balik kaca mobil yang samar-samar kelihatan karena tertutup oleh kain sutera putih.

Aku perhatikan bentuk tubuh mereka dan pakaian seragamnya, persis seperti yang pernah aku lihat di gambar-gambar dalam koran-koran ketika Jepang memasuki Tiongkok. Benar-benar bangsa kate! Tubuhnya pendek-pendek sambil menyandang bedil-bedilnya dengan bayonet terhunus. Tampaknya bedil dengan bayonet terhunus masih lebih panjang dibanding tubuhnya. Topinya terkenal khas Nippon, terbuat dari kain sewarna dengan bajunya yang hijau kekuning-kuningan, dengan rumbai-rumbai menutupi tengkuknya. Dibanding dengan seragam serdadu Belanda, maka seragam tentara Jepang seperti model seenaknya, dengan tanggung di bawah siku, baju dan celananya tampak kedodoran dengan kedua kakinya dibalut kain dari bawah lutut hingga pergelangan kaki, yang disambung dengan sepatu dari karet. Mereka menampakkan wajah yang angker dan keras memegang disiplin. Lebih acuh tak acuh lagi menjawab lambaian rakyat.

Aku tinggalkan jalan raya setelah iring-iringan Jepang selesai melintasi kotaku. Mereka menuju Purwokerto, ibu kota Karesidenan Banyumas. Semalam itu, aku paksakan untuk tidur, beberapa malam kekurangan tidur. Di kepalaku penuh berbagai pikiran. Telah berakhirkah zaman penjajahan? Apa yang harus aku lakukan dengan teman-teman di hari-hari yang akan datang? Terkenang padaku kejadian di Manchuria dan Tiongkok. Jepang menduduki negeri-negeri itu, namun bangsa Manchuria dan Tionghoa tetap saja dijajah Jepang, seperti halnya bangsa-bangsa Formosa dan Korea yang lebih lama lagi hidup dalam penjajahan Jepang.

Di kepalaku berisi tanda tanya, apakah suatu pertanda: tamatnya suatu penjajahan untuk memulai zaman penjajahan baru? Zaman penjajahan Belanda telah tamat. Akan menyusulkah zaman penjajahan Jepang?

Aku penat sekali dengan pikiran-pikiran yang tak mau hilang dari benakku. Tetapi aku juga letih memerlukan tidur. Aku tidak ingat lagi sampai di mana aku sanggup berpikir, aku tidur juga pada akhirnya. Selama tidur, aku tak berpikir lagi, bermimpi pun tidak!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: