Tamatnya Zaman Penjajahan

“Kalau diikuti teori W.J.S. Purwadarminta dalam kamusnya, maka arti santri atau santeri ialah orang yang menuntut pelajaran Islam (dengan pergi berguru ke tempat yang jauh seperti pesantren dan sebagainya). Tetapi kalau diikuti pengertian umum, maka santri ialah mereka yang mempelajari agama Islam, baik yang pergi ke tempat yang jauh maupun dekat dengan niat hendak mengamalkan llmunya, dan hendak menyebarluaskannya. Hasil dari ilmu yang dituntut itu dengan sendinnya mempengaruhi perilaku sehari-harinya.

Karena yakin akan kebenaran gurunya, mereka meniru laku dan perbuatan gurunya. Ilmu yang diperoleh dari mereka, artinya dari gurunya, dijadikan dasar pola membentuk sikap mental dan watak mereka dalam hidup. Semua ini lantaran dilandasi oleh suatu niat suci dalam hatinya bahwa ilmu-ilmunya memang diyakini kebenarannya serta akandipraktikkan dalam amal sehari-hari. Oleh sebab itu, barang siapa yang mempelajari Islam sekadar untuk diketahui, baik karena tidak meyakini kebenaran Islam, maupun untuk tujuan yang merugikan Islam dan umatnya, maka ia tidak layak untuk disebut santri.

Prof. Dr. Ch. Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah seorang Kristen yang menjadi penasihat pemerintah Hindia Belanda mengenai soal-soal agama Islam. Walaupun pengetahuannya tentang Islam sangat banyak, ia tidak bisa disebut seorang santri ketika bertahun-tahun sedang mempelajari agama Islam. Ia pernah menjabat guru besar tentang Islamologi pada Universitas Leiden. Celakanya, ia pernah menyamar di Makah sebagai dokter mata dan tukang potret dengan memakai nama samaran Abdul Ghafur, karena tugasnya untuk melumpuhkan kekuatan umat Islam Indonesia berhubung perlawanan umat ini terhadap kekuasaan Belanda di mana-mana, dan khususnya ketika Belanda sangat kewalahan menghadapi Perang Aceh, Diponegoro, Imam Bonjol, maka kita sangat keberatan kalau Profesor Belanda ini digolongkan seorang santri. Dia sendiri pun tentunya tidak sudi disebut santri.

Jelaslah bahwa santri adalah mereka yang belajar ilmu-ilmu agama Islam dengan niat untuk mengamalkan ilmu yang mereka yakini kebenarannya 100% itu. Bahkan hendak menyebarluaskan ilmunya itu untuk tujuan membela dan memperkembangkan Islam. Selama mereka belajar, tugas dan perhatian mereka cumalah belajar dan belajar tentang segala seluk-beluk agama Islam dengan segala ilmunya. Hal itu sesuai dengan pesan dan nasihat orang tua mereka, agar mereka cuma belajar tentang ilmu Islam. Bagaimana tentang penghidupan mereka kelak di kemudian hari? Pada umumnya tidaklah mereka pikirkan benar. Karena apa? Karena orang tua mereka masing-masing telah menyiapkan di kampungnya barang sebidang sawah atau ladang, atau perusahaan orang tuanya yang telah menanti kelak untuk diurus sebagai bekal hidup manakala mereka telah selesai belajar. Mereka memusatkan cita-citanya untuk kelak menjadi kiai atau ustadz seperti gurunya, sedang lapangan kerja baginya telah tersedia. Mereka akan menjadi orang masyarakat yang terjun ke tengah-tengah umat. Hampir tidak ada yang terlintas dalam angan-angannya agar kelak menjadi pegawai negeri, pegawai pemerintah jajahan.

Oleh karena para santri adalah anak-anak rakyat, mereka jadi amat paham tentang arti kata rakyat. Paham benar tentang kebudayaan rakyat, tentang keseniannya, agamanya, jalan pikirannya, cara hidupnya, semangat, dan cita-citanya, suka dukanya, tentang nasibnya, dan segala liku-liku hidup rakyat. Sebagai anak-anak dari rakyat, maka para santri lahir dari sana, demikian mereka hidup dan lalu mati pun di sana pula.

Rakyat adalah kaum tani, pedagang kecil, tukang-tukang, mereka adalah bapak-bapaknya kaum santri. Rakyat hidupnya serba susah, mereka terbelenggu oleh rantai penjajahan, dan bernasib sebagai anak jajahan. Sebab itu, para santri dan kiai sangat paham tentang arti hidup dalam penjajahan. Indonesia pada tahun 1940-1942, bagaikan suatu kancah perjuangan yang sedang naik pasang gejolaknya. Rakyat menjadi semakin matang untuk memperjuangkan nasibnya lepas dan belenggu penjajahan. Tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan di seluruh persada tanah air.

Suatu hari aku mengunjungi Pesantren Kalijaran, Purbalingga, sebuah pesantren dengan lebih kurang 700 orang santri yang datang dari segala pelosok di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Pesantren itu terletak di daerah pegunungan, jauh dari kota. Tak ada kendaraan yang dapat digunakan untuk mencapai pesantren itu, bersepeda pun amat susahnya, karena harus berkali-kali menyeberangi sungai yang deras airnya, penuh dengan batu-batu kali pada tebing-tebingnya. Aku tidak ingat lagi berapa sungai yang aku harus seberangi. Yang aku ingat, aku sangat letih berjalan kaki sejauh 12 km dari kota distrik Bobotsari, tempat pemberhentian bis yang terakhir. Jalan di pegunungan itu berkelok mendaki dan menurun mengikuti liku-liku puntuk dan gunung-gunung kecil dengan pohon johar dan kayu-kayuan pegunungan pada tepi-tepinya. Pengkolan jalan itu kadang-kadang terpotong oleh sungai yang melintang, penuh genangan air yang membuat becek ujung jalan karena kanak-kanak penggembala menghalau kerbaunya ke sana. Sepatu kulepas karena tak guna berjalan di atas batu-batu yang tajam dengan sebentar-sebentar melepas kembali karena harus menyeberangi sungai.

Aku tiba di pesantren itu lepas waktu ashar dengan kaki yang bengkak-bengkak dan lecet. Aku menuju ke masjid pesantren. Sambil melepaskan lelah aku sembahyang dzuhur dan ashar jama’ ta’hir. Kedatanganku diketahui anak-anak santri yang tengah mengaji. Rupaku sebagai orang asing di pesantren itu, mudah sekali dikenali orang. Aku mengenakan uniform “Ansor,” kemeja model pandu berwarna hijau khaki, peci berwarna seperti kemeja, dan sebuah ransel yang kulepaskan dari pundak. Aku katakan kepada mereka siapa aku dan bermaksud hendak menghadap kiai.

Kiai Hisyam. pemimpin Pesantren Kalijaran, menerima kedatanganku di pendapa rumahnya, di samping masjid. Seorang laki-laki bertubuh kekar dengan sinar matanya yang jernih, aku taksir usianya belum 50 tahun. Dengan mengenakan peci tarbus merah yang sudah lepas koncernya, dihiasi oleh jenggotnya yang tak begitu tebal, menimbulkan gambaran suatu wajah yang lucu, tetapi menyenangkan. Beliau sedang menerima seorang tamu, Kiai Raden Iskandar dari Karangmoncol, yang sudah lama aku kenal. Seperti biasa, kiai ini mengenakan peci model H.O.S Cokroaminoto, peci hitam yang dilekuk di bagian depan, menghias wajahnya yang putih bersih dengan jenggotnya yang hitam tebal, menambah wibawa dan gagahnya kiai yang setengah baya usianya ini.

Wa ‘alaikum as-salam wa rahmatu Allahi wa barakatuh, seru kedua kiai ini berbareng setelah melihat kedatanganku, walaupun aku belum mengucapkan salam.

“Tak ada burung perenjak, jumarojok tanpo larapan?’ seru Kiai Hisyam, maksudnya bahwa kedatanganku amat sekonyong-konyong tanpa kabar berita sebelumnya.

“Aku sudah dengar bahwa saudara akan datang di Kertanegara besok malam,” Kiai Iskandar menyela, seolah-olah menjawab sambutan Kiai Hisyam.

“Sendiriankah Saudara? Naik apa?” Berbareng dua kiai ini berebut menghujai aku dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Dengan Malaikat Jibril, naik burak” jawabku ketus, seolah-olah kedatanganku bagaikan Rasulullah Saw, ketika disertai Malaikat Jibril dalam riwayat Isra’ Mi’raj.

Semua tertawa terbahak-bahak. Batinku mengatakan, habis dengan siapa lagi kalau tidak sendirian. Memangnya ada kendaraan yang bisa lewat di daerah ini. Tentu cuma berjalan kaki. Kalau
Rasulullah Saw bisa mengendarai burak dalam perjalanan Isra’-nya mengarungi padang Sinai yang penuh bukit-bukit batu. Dan aku ini apa? Tentulah berjalan kaki dan sendirian.

“Santri! Bikinkan kopi tubruk yang kental, pakai cangkir besar, cangkir tutup!” teriak Kiai Hisyam menyuruh khadamnya membuatkan aku secangkir kopi istimewa. Aku tahu benar kebiasaan para kiai. Kopi tubruk yang kental (tentu saja manis), dengan cangkir tutup yang besar, adalah suatu hidangan kehormatan, dan hanya disuguhkan kepada orang yang dipandang harus dihormati. Kalau seseorang itu disuguhi kopi, biar siang biar malam, pertanda kehormatan besar. Apalagi kalau dengan cangkir besar yang bertutup. Ini suatu kehormatan istimewa. Minuman teh, apalagi memakai gelas, dianggap bukan suguhan, cuma sekadar pembasah tenggorokan.

Kebiasaan para kiai menyuguhi tamu tidak cukup hanya minuman kopi saja. Biasanya selalu diiringi dengan kue-kue beraneka macam memenuhi meja, kadang-kadang meja tidak muat lagi, walaupun tamunya hanya seorang. Pucuk dicita ulam tiba, dasar aku sudah haus dan lapar sekali. Sepanjang jalan yang aku tempuh tak ada warung makanan, kecuali sesekali aku jumpai penjual dawet yang disinggahi para pejalan kaki.

Kami saling menanyakan tentang kabar keselamatan masing-masing, dan kabar tentang sahabat-sahabat yang jauh. Suasananya jadi amat menyenangkan dalam ikatan persaudaraan yang akrab.

“Jadi besok malam Saudara ada di Kertanegara? Aku pun akan datang juga kesana, Insya Allah,” Kiai Iskandar menyambung pembicaraan yang terputus karena instruksi Kiai Hisyam membuatkan untukku kopi kental.

“Memang, Insya Allah aku besok ke Kertanegara. Aku telah hubungi Sdr. Hudimiharja, ketua “Ansor” di sana. Aku ingin memberi penjelasan kepada kawan-kawan mengenai maksud pemerintah Hindia Belanda mengadakan mobilisasi di kalangan pemuda-pemuda kita, dan bagaimana sikap kita,” jawabku.

“Aku membaca di koran bahwa Ratu Wilhelmina, kini berada di London, bagaimana ceritanya ini?” tanya Kiai Hisyam sambil menuangkan air putih panas ke dalam kopi kentalku yang tinggal separo cangkir. Kebiasaan orang Banyumas kalau minum kopi dituangi air putih yang panas, agar kopi menjadi penuh lagi dalam cangkir. Dijogi,istilahnya.

“Negeri Belanda telah diduduki oleh Jerman. Hitler telah menunjuk seorang kaki tangannya membentuk pemerintah Belanda yang pro-Nazi. Karena itu, Ratu Belanda mengungsi ke Inggris dan meneruskan pemerintahan pelarian Belanda di sana,” jawabku menjelaskan.

“Pemerintah Hindia Belanda di sini ikut Wilhelmina atau ikut Hitler?” Kiai Iskandar menanyakan kepadaku.

“Tentu ikut Wilhelmina, tetap setia kepada ratu yang mengungsi di London,” jawabku,

“tetapi jadi serba susah mereka. Ikut Wilhelmina telah putus hubungan, sedang Hindia Belanda diancam oleh Jepang, sekutu Hitler. Orang banyak meramalkan bahwa tak lama lagi Jepang akan memaklumkan perang kepada Hindia Belanda. Situasinya jadi genting sekali bagi Belanda,” demikian kataku.

“Dalam majalah Berita Nahdhatul Oelama bulan yang lalu aku baca,” demikian Kiai Iskandar, “bahwa Hoofdbestuur’ Nahdhatul Ulama mendesak MIAI untuk bersama-sama GAPPI meningkatkan tuntutan Indonesia berparlemen kepada pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Belanda di Den Haag. Bagaimana hasilnya?”

“Lima hari yang lalu aku terima surat dari K.H.A. Wahid Hasyim, ketua MIAI. Sebagaimana kita tahu, MIAI ini sebuah badan gabungan federasi dari semua partai politik dan organisasi Islam seluruh Indonesia. MIAI telah mengadakan kerjasama dengan GAPPI sebagai gabungan dari partai-partai politik non Islam dalam aksi menuntut Indonesia berparlemen. Kini telah terbentuk suatu kerjasama antara MIAI dan GAPPI dalam suatu kongres rakyat yang diberi nama KORINDO, Kongres Rakyat Indonesia. Menuntut kepada Pemerintah Belanda di Den Haag agar kepada Indonesia diberi hak memerintah sendiri dengan suatu badan perwakilan rakyat yang bernama Parlemen Indonesia.

Menurut bunyi surat K.H.A.Wahid Hasyim tadi, jawaban pemerintah Belanda sangat mengecewakan,” demikian aku menjelaskan.

“Keterlaluan Belanda!” sela Kiai Hisyam. “Namanya saja Londo, alon-alon mbondo” (menelikung dan mengikat erat dengan pelan-pelan). Semua kami tertawa. Memang dalam sejarahnya Belanda selalu menelikung kita bangsa Indonesia dengan mengikat dan membelenggu kita sambil menjalankan semboyannya alon-alon asal kelakon selama 350 tahun.

“Apa jawaban pemerintah Belanda yang kini tak berdaya dalam pengungsian di London?” tanya Kiai Iskandar, sambil menyedot rokok klembaknya.

“Apa yang diceritakan K.H.A.Wahid Hasyim dalam suratnya sama dengan yang aku baca dalam surat-surat kabar bahwa Belanda tidak bermaksud mengadakan perubahan politik dan ketatanegaraan apa pun bagi rakyat Indonesia selama masih dalam suasana peperangan ini. Mereka meminta segalanya ditangguhkan sampai perang selesai, baru nanti akan dibicarakan,” demikian kataku menjelaskan.

Pembicaraan kami terhenti karena terdengar azan maghrib. Kiai Hisyam mempersilakan kami berdua bersama-sama menuju masjid untuk sembahyang maghrib berjama’ah. Aku disediakan tempat khusus untuk bermalam di kamar tarnu. Kiai mempunyai banyak kamar tamu. Tetapi Kiai Iskandar meminta aku berkumpul menjadi satu dalam kamarnya, katanya karena masih kangen, masih rindu. Seperti halnya dengan Kiai Iskandar, aku pun mengenakan kain sarung menuju masjid. Sudah penuh santri-santri dalam masjid yang sedang membaca puji-pujian, bacaan menjelang sembahyang dilakukan, sambil menunggu Kiai Hisyam selaku imam sembahyang.

Berebutlah para santri menyalami Kiai Raden Iskandar dan aku ganti-berganti. Ada beberapa santri yang mencium tanganku sehabis mencium tangan Kiai Iskandar.

Batinku, ini ketularan Kiai Iskandar. Beliau seorang kiai besar, sedang aku cuma seorang pemuda, mana bisa dicium tanganku kalau tidak karena berkah Kiai Iskandar?

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: