Tantangan Globalisasi Ekonomi, Internet, dan Neuro- Sains

Terkait dengan globalisasi, UNESCO (2015) menyampaikan beberapa catatan yang memerlukan perhatian bahwa globaliasi ekonomi telah berhasil mengurangi kemiskinan di tingkat global; akan tetapi juga diikuti dengan pertumbuhan permintaan tenaga kerja yang lambat, pengangguran pada generasi muda yang makin meningkat, rentan terjadi perubahan jenis pekerjaan. Demikian pula globalisasi ekonomi juga memperlebar kesenjangan antar masyarakat baik di dalam suatu negara itu sendiri ataupun kesenjangan antarnegara. Pada tataran global, sistem pendidikan di era globalisasi ekonomi juga menyumbang ketidakadilan dengan mengesampingkan peserta didik yang berkesulitan belajar dan mereka yang tinggal di wilayah yang miskin; berpusat pada pendidikan masyarakat yang ekonominya tinggi sehingga membuat pendidikan menjadi eksklusif. Dari segi kelestarian lingkungan; pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, dan urbanisasi mendorong eksploitasi sumber daya alam dan meningkatkan polusi.

Dari segi sosial budaya, masyarakat mengalami pesatnya pertumbuhan budaya migrasi dan mobilitas; muncul terorisme, obat terlarang, peperangan, konlik internal antar kelompok masyarakat, bahkan konflik antarpelajar, antara orang tua siswa dengan guru, dan adanya perundungan pada anak yang meningkat. Sekolah, sebagai institusi yang dalam kehidupan keseharian melaksanakan pendidikan, tidak bisa lepas dari pengaruh perkembangan masyarakat global. Sekolah meng- hadapi tantangan yang bersumber dari perkembangan teknologi, ekonomi, dan perubahan sosial budaya tersebut seperti munculnya tekanan antara orientasi dinamika kepentingan global dan lokal; universal dan partikular; tradisi dan modernitas; spiritual dan materialisme; pertimbangan jangka panjang dan jangka pendek; kebutuhan untuk bersaing dan perjuangan mewujudkan kesamaan hak; ekspansi pengetahuan dan daya penyesuaian.

Sebagai ilustrasi, UNESCO (2015) memberikan gambaran bahwa di akhir abad 20 (antara tahun 1960-2000), penggunaan air masyarakat dunia mengalami kenaikan dua kali lipat, konsumsi makanan meningkat 2,5 kali dan konsumsi kayu meningkat tiga kali. Pendorong utamanya karena pertumbuhan demoggrafi. Sebagai gambaran, jumlah penduduk dunia mengalami peningkatan dari 2,5 miliar pada tahun 1950 menjadi tujuh miliar pada tahun 2013 dan diperkirakan akan meningkat menjadi delapan miliar pada tahun 2025. Diperkirakan pada tahun 2030, kebutuhan makanan akan meningkat 35 persen, kebutuhan air meningkat 40 persen, kebutuhan energi meningkat 50 persen. Lebih dari separoh penduduk akan tinggal di kota. Pada tahun 2050 penduduk di perkotaan akan mencapai lebih dari enam miliar jiwa.

Kemajuan spektakuler di bidang konektivitas internet, teknologi mobile, media digital, peningkatan kesempatan memperoleh akses pendidikan, berkembangnya pendidikan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan perseorangan menjadi berbagai faktor terjadinya transformasi pola sosial, masyarakat sipil, dan politik. Demikian pula mobilitas tenaga kerja yang lebih besar, mobilitas pelajar antar negara, perpindahan lintas pekerjaan dan tempat belajar mendorong pentingnya memper- timbangkan kembali bagaimana masyarakat belajar, bagaimana cara mengenali kompetensi mereka, memvalidasi kompetensi, dan tata cara dalam melaksanakan penilaian.

Masyarakat telah hidup di dunia konektivitas. Sekitar 40 persen dari populasi dunia sekarang menggunakan internet dan pertumbuhannya akan terus bertambah. Akan tetapi masih ada kesenjangan antara perkotaan dan perdesaan. Keterbatasan kecepatan broadband dan terbatasnya konektivitas menghambat akses pengetahuan maupun partisipasi di bidang sosial ekonomi. Internet telah mengubah tatanan orang dalam akses informasi dan pengetahuan, cara berinteraksi, arah manajemen publik serta manajemen bisnis. Konektivitas menjanjikan kemajuan dalam kesehatan, pendidikan, komunikasi, dan kesejahteraan hidup. Perkembangan teknologi digital telah mengantarkan pertumbuh informasi dan pengetahuan secara eksponensial dan mudahdiakses oleh lebih banyak orang di seluruh dunia. Teknologi digital telah membentuk aktivitas manusia dari kehidupan sehari- hari hingga hubungan internasional, dari pekerjaan hingga hiburan. Bahkan teknologi digital mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pribadi maupun umum.

Perkembangan teknologi informasi semestinya memiliki peranan penting dalam pertukaran pengetahuan dan keahlian; mampu mewujudkan pembangunan yang tidak merusak lingkungan alam; mampu memupuk semangat soladaritas antar warga dunia. Dalam realitanya banyak pengamat menyatakan bahwa dunia mengalami peningkatan polarisasi etnik, budaya, dan intoleransi religi dengan memanfaatkan teknologi komunikasi untuk mobilisasi ideologi dan politik sehingga memperlebar pandangan ekslusif. Mobilisasi ini mendorong munculnya kriminal dan kekerasan politik bahkan konflik bersenjata. Di sektor kemajuan siber, ketersediaan informasi personal dalam dunia siber membawa dampak ikutan seperti munculnya isu privasi dan sekuriti. Misalnya berbagai kasus gangguan privasi seperti yang terjadi dalam media sosial digital. (UNESCO, 2015, hal. 23).

Di bidang ilmu saraf (neurosciences) hasil penelitian menunjukkan perkembangan pesat sehingga mendukung pentingnya kesadaran dan gerakan belajar sepanjang hayat (life- long learning). Perkembangan di bidang neurosains menarik minat bagi komunitas pendidikan untuk mengetahui interaksi antara proses biologi dengan kegiatan belajar manusia (human learning). Neurosains memiliki potensi dalam peningkatan efektivitas proses mengajar bagi guru dan kegiatan belajar masyarakat. Misalnya, temuan penelitian tentang bagaimana otak berkem- bang dan menjalankan fungsinya pada level-level perkembangan kehidupan manusia memberi kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana dan kapan manusia belajar. Misalnya, pembelajaran bahasa mencapai puncak efektivitasnya di masa awal pertumbuhan. Hal ini memberi makna pentingnya pembelajaran bahasa di masa kanak-kanak dan potensi pembelajaran berbagai bahasa di masa kanak-kanak.

Temuan lain terkait plasticity (kelenturan/keluwesan) otak dan kapasitasnya untuk berubah dalam menghadapi permintaan/ tuntutan lingkungan selama perjalanan hidup. Neuroplastisitas adalah konsep neurosains yang merujuk kepada kemampuan otak dan sistem saraf semua spesies untuk berubah secara struktural dan fungsional sebagai akibat dari input lingkungan. Bentuk plastisitas yang paling umum diakui adalah pembelajaran, memori, dan pemulihan dari luka otak (wikipidea; kompasiana, 23 Januari 2016). Temuan ini mendukung gagasan penyediaan bahan ajar yang terbuka luas bagi individu untuk menguasainya tanpa kecuali usianya.

Sumber : Mengajar Generasi Z

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: