Teori Belajar Behaviorisme

Teori belajar Behaviorisme yang berkembang tahun 1920-an termasuk ke dalam epistemologi objektivisme (objectivism). Epistemologi objektivisme meyakini bahwa ada fakta-fakta, prinsip-prinsip, teori-teori objektif yang dapat dipercaya; baik karena sudah ditemukan sebelumnya, atau memiliki riwayat kepastian yang berlangsung lama, atau akan tetap berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Kebenaran tersebut ada yang di luar jangkauan pikiran manusia. Misalnya, hukum alam yang tetap konstan meskipun pengetahuan tetap berlangsung terus. Kaitannya dengan profesi pengajaran, pandangan objektivisme melihat bahwa hal-hal yang diajarkan harus terdiri dari fakta, formula-formula, terminologi, prinsip-prinsip yang jelas. Buku- buku disusun dengan penuh tanggung jawab keilmuan, infor- matif, tertata sistematis, dan jelas. Demikian pula tugas siswa untuk menguasainya secara menyeluruh, menambahkan ke dalam khazanah pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, didasarkan pada data atau bukti empiris dan hipotesa yang teruji.

Teori belajar Behaviorisme diilhami metode yang digunakan dalam ilmu fisika kemudian memfokuskan pengamatan pada aspek-aspek perilaku yang dapat diamati dan diukur secara langsung. Behaviorisme menolak keadaan rasa (feelings), sikap (attitudes), dan kesadaran (consiousness) yang tidak dapat diukur dengan pasti. Perilaku merupakan respon secara mekanistik yang dapat berubah karena stimulus. Contoh sederhananya adalah mata yang akan berkedip secara reflek ketika mendapat stimulus berupa pancaran sinar yang sangat terang yang menyilaukan. Pandangan behaviorisme mengggunakan asumsi adanya keterkaitan langsung antara “input” atau masukan sebagai suatu “stimulus” dan “output” atau keluaran sebagai suatu “respon”. Seseorang dapat memanipulasi “input” agar menghasilkan perilaku sesuai dengan yang diinginkan. Umpan balik positif atau negatif dapat digunakan sebagai hadiah/imbalan, penguatan, atau untuk menghilangkan perilaku spesifik tertentu. Sebagai- mana fenomena mata berkedip karena bereaksi terhadap sinar yang menyilaukan, aliran pemikiran behaviorisme menawarkan asumsi bahwa perilaku yang berulang-ulang akan menjadi otomatis.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, hubungan antara stimulus dan respon dapat dimodifikasi dengan cara memanipu- lasi “input” yang berperan sebagai “stimulus”. Dengan demikian, “output” pada dasarnya dapat dikontrol dengan memanipulasi “input”. Aplikasinya dalam proses belajar mengajar, teori belajar behaviorisme berpandangan bahwa hasil belajar dapat diprediksi dan dapat dikontrol dengan diberi input atau materi pelajaran sebagai kondisi yang akan berperan untuk memanipulasi agar terwujud hasil belajar yang diinginkan. Pandangan ini memiliki implikasi bahwa peserta didik diperlakukan sebagaimana “black box” (kotak hitam yang kosong) yang akan diisi dengan paket materi yang disusun secara sistematis yang berperan sebagai input yang menjadi stimulus untuk mendapatkan output sebagai respon yang akan menjadi hasil belajar. Demikian pula umpan balik yang dapat memperkuat atau sebaliknya menghapus perilaku berperan dalam proses manipulasi perilaku. Behaviorisme juga mendukung irama atau kecepatan belajar perseorangan atau pembelajaran individual dan perilaku yang berulang-ulang akan menjadi perilaku yang otomatis. Di era digital, teori belajar Behaviorisme antara lain diterapkan dalam Artificial Intelligence untuk memodifikasi perilaku.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: