Teori Belajar Kognitivisme

Teori belajar Kognitivisme memiliki asumsi bahwa proses belajar merupakan proses psikologis untuk menanggapi pengalaman. Proses belajar merupakan proses aktif pada pihak yang sedang belajar untuk mengolah informasi yang masuk ke dalam dirinya. Informasi diproses dalam pikiran; perubahan perilaku menunjukkan adanya proses yang terjadi di dalam pikiran; proses pencatatan informasi, efektivitas penyimpanan informasi dalam memori jangka pendek dan jangka panjang ada kaitannya dengan karakteristik materi yang dipelajari. Berhu- bung otak memiliki kapasitas yang terbatas dalam memroses informasi, maka informasi harus dibagi-bagi atau dipecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Agar dapat memper- tahankan informasi baru, materi harus disampaikan dengan gambaran yang khas, menarik dan mudah diingat sehingga membantu orang yang belajar dalam membedakan informasi baru dari materi yang dipelajari sebelumnya. Orang yang belajar harus diberi kesempatan untuk mempraktikkan agar informasi yang telah dimiliki sebelumnya dapat menjadi dasar pijakan/ fondasi pengait terhadap informasi ataupun materi baru yang dipelajari. Penerapan teori Kognitivisme dalam pembelajaran misalnya taksonomi tujuan pembelajaran yang dikembangkan Bloom (1956) yang meliputi kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik dan kemudian diperbaiki oleh Anderson dan Krathwohl (2000) dengan menambahkan kawasan berkreasi pengetahuan baru (creating new knowledge) (Bates, 2019).

Penerapan teori belajar Kognitivisme di era digital misalnya penggunaan sistem tutor cerdas (intelligent tutoring system) yaitu pengembangan paket materi ajar ke berbagai topik kemudian pihak yang akan belajar dapat lompat ke topik yang sesuai dengan kebutuhanya. Contoh lain misalnya kecerdasan buatan (artificial inttellegence) yang merancang topik-topik pembelajaran yang menggantikan sebagian peran guru misalnya pembelajaran Bahasa Inggris yang di dalam program telah ada fungsi suara, fungsi koreksi vokal dan konsonan, fungsi koreksi tata bahasa, fungsi latihan/praktik menulis, fungsi topik yang disarankan untuk dipelajari pada tahap berikutnya. Demikian pula dalam penerapan teori belajar Kognitivisme dapat dijumpai dalam pembuatan desain instruksional yang merancang topik-topik pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran yang harus dicapai sebelumnya, seperti tujuan tingkat memahami, analisis, sistesis, evaluasi, kreasi. Implementasi teori Kognitivisme mendukung penerapan Model Pembelajaran Berorientasi Masalah (Problem based learning) yang menerapkan langkah-langkah pemecahan masalah berdasarkan tahapan pemecahan masalah tertentu, di mana langkah-langkah tersebut telah terbukti menghasilkan pemecahan masalah.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: