Teori Belajar Konektivisme

Teori belajar Konektivisme mengajukan argumen bahwa pengetahuan terbentuk sebagai hasil dari konektivitas antar- “nodes” (titik-titik atau simpul-simpul yang berisi sumber informasi). Pengetahuan dibuat oleh hubungan antarberbagai individu yang keanggotaanya secara terus-menerus berkembang. Pengetahuan dalam jejaring antarhubungan tersebut tidak di bawah kendali organisasi formal tertentu (Siemesn, 2005). Lebih lanjut Downes (2010) mengemukakan bahwa dalam Konektivis- me tidak ada konsep riil tentang transfer pengetahuan, membuat pengetahuan, ataupun membangun pengetahuan, tetapi lebih ditunjukkan adanya aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan. Atas dasar berbagai aktivitas tersebut kemudian pengetahuan tumbuh dengan sendirinya dalam jalinan konektivitas.

Prinsip-prinsip Konektivisme antara lain: pembelajaran dan pengetahuan berada pada aneka ragam opini; pembelajaran berupa proses menghubung-hubungkan antarsumber informasi atau “nodes” tertentu; kapasitas ingin mengetahui lebih banyak lebih penting daripada keadaan yang sekarang sudah diketahui; mempertahankan atau menyuburkan koneksi diperlukan untuk menjaga kontinuitas proses pembelajaran; kemampuan untuk bisa melihat koneksi antararea, ide-ide, konsep merupakan keterampilan inti; kekinian (akurasi, kebaruan pengetahuan) merupakan keinginan dari semua pihak yang terhubung dalam jaringan jalinan koneksi; dan proses belajar diwarnai proses pembuatan keputusan (Siemens, 2005). Keputusan tentang apa yang akan dipelajari dan makna informasi yang datang dilihat sebagai hamparan pergeseran realita. Hal-hal yang dianggap benar pada saat ini kemungkinan dianggap salah esok hari karena pengaruh dari informasi yang datang dan memengaruhi keputusan. Belajar dibangun di atas jejaring informasi yang merupakan jejaring koneksi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Informasi tidak berpusat di satu tempat, tetapi terpencar di mana-mana. Proses belajar memerlukan individu-individu yang berkumpul untuk melakukan klasifikasi dan membuat pemprioritasan informasi. Implikasi teori belajar Konektivisme antara lain belajar bergantung pada pengembangan jejaring yang menawarkan ragam informasi; belajar sebaiknya dikenalkan dengan aneka ragam sumber-sumber informasi; belajar akan efektif ketika seseorang memperkaya jejaring dan dapat melihat koneksi antar sumber-sumber, ide-ide, dan konsep-konsep yang disediakan atau yang ada pada jejaring; jejaring terdiri dari orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama yang saling berbagi hal sesuai kepentingan tersebut karena mereka ingin membantu orang lain atau meningkatkan kebaikan dunia. Mereka ingin mendapatkan informasi yang akurat, kekinian, yang sesuai dengan situasi tertentu. Seringkali anggota jejaring tidak saling bertemu atau tidak saling mengetahui. Jejaring sulit diarahkan dan keanggotannya sulit dipertahankan; pembuatan keputusan merupakan proses belajar. Aplikasi teori Konektivisme dalam proses pendidikan antara lain praktik kursus-kursus ataupun perkuliahan dalam jaringan yang terbuka untuk umum secara masif (massive open online course/MOOC.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: