Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar Konstruktivisme berasal dari bidang ilmu kognitif, khususnya dari Jean Piaget, Lev Vigotsky, Jerome Bruner, Howard Gardner, dan Nelson Goodman. Teori ini menjelaskan bahwa pengembangan pengetahuan melalui belajar merupakan proses konstruksi aktif makna-makna dari hal-hal yang dipelajari yang mana dalam proses pembuatan makna memiliki keterkaitan dengan konteks dan lingkungan di mana kegiatan belajar ataupun situasi belajar dilaksanakan. Konstruktivisme memiliki pandangan bahwa pengetahuan atau makna tidak baku (fixed) pada objek tetapi merupakan hasil konstruksi atau proses pemahaman seseorang melalui pengalaman mereka dalam menyikapi objek yang dipelajari dan konteks tertentu yang terkait dengan hal yang dipelajari. Constructivisme menekankan peranan penting kesadaran, kebebasan keinginan, pengaruh situasi sosial terhadap kegiatan belajar. Carl Rogers (1969) menyatakan bahwa setiap individu eksis di tengah-tengah dunia pengalaman yang terus berubah yang mana dirinya berada di tengah-tengah arus perubahan 37 tersebut (every individual exist in a continually changing world of experience in which he is the center.”) (Bates, 2019).

Teori belajar konstruktivisme dibangun atas dasar asumsi bahwa manusia membangun cara pandang masing-masing ketika menghadapi informasi yang dipelajari. Teori belajar Konstruktivisme memandang individu sebagai makhluk yang unik yang tidak sama dengan yang lain karena masing-masing individu memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, mengadakan interpretasi melalui proses psikhologis yang berbeda-beda, dan menyimpulkan makna secara individual pula. Dalam pandangan Konstruktivisme, proses belajar merupakan proses sosial yang memerlukan proses komunikasi antara pihak yang belajar, pihak yang mengajar dan dengan teman belajar. Proses belajar dapat dibantu dengan teknologi, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan proses tersebut sepenuhnya. Manusia belajar dengan melakukan refleksi sesuai pengalaman yang dialami masing-masing maupun pengalaman yang diperoleh secara kolaboratif dalam kelompok.

Dalam perkembangannya teori belajar Konstruktivisme mengalami perkembangan sehingga ada yang disebut sebagai teori belajar Konstruktivisme dasar dan teori belajar Konstruktivisme modern. Teori belajar Konstruktivisme dasar memiliki pandangan bahwa ketika manusia sedang berusaha memahami objek atau memberi makna objek yang dipelajari dipengaruhi pengetahuan terdahulu (pengetahuan yang telah dimiliki). Struktur pengetahuan yang telah dikonstruksi sebelumnya diambil/ditarik ke permukaan dan dijadikan pijakan untuk pengembangan struktur pengetahuan baru. Pengetahuan baru dari proses konstruksi tersebut kemudian ditambahkan ke pengetahuan yang telah dikenali sebelumnya.

Konstruktivisme modern percaya bahwa pengetahuan dikonstruksi secara personal kemudian dikembangkan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya sebagai fondasi. Pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya yang dibawa ke permukaan itu sendiri dikonstruksi ketimbang sekadar diambil begitu saja dari memori kasus per kasus. Dengan demikian pengetahuan itu berdasarkan konstruksi individual yang tidak dikaitkan ke realitas eksternal, tetapi lebih kepada hasil interaksi di dalam diri orang itu sendiri dengan dunia eksternal yang dipelajari.

Pandangan utama Konstruktivisme adalah bahwa pengeta- huan tidak eksis secara independen/terpisah di dunia. Maka, setiap situasi dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Pengalaman individual, persepsi, dan konstruksi individual tidak berarti bahwa orang-orang yang mempelajari topik yang sama tidak akan mampu memiliki persamaan pemahaman antara satu individu dengan individu lain, melainkan bahwa proses negosiasi sosial menjadi sangat penting dalam pembelajaran. Proses konstruksi pengetahuan oleh para individu didasarkan pada proses interaksi sesama rekan, fasilitator, dan ahli. Konsepsi dan ide-ide dibandingkan, dikonfrontasi, dan didiskusikan melalui interaksi. Dalam proses, semua aktor memodifikasi pandangan mereka hingga akhirnya mencapai pemahaman yang umum. Hal ini yang menyebabkan teori belajar Konstruktivisme acap kali didiskusikan sebagai lawan dari teori belajar Behaviorisme. Behaviorisme berpandangan bahwa perilaku dan keterampilan merupakan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, sedangkan Konstruktivisme berpandangan bahwa pengemba- ngan konsep dan pemahaman yang mendalam merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.

Dalam pandangan teori belajar Konstruktivisme, suatu situasi, negosiasi, dan aneka perspektif memiliki peranan penting. Konsep tersebut yang antara lain memunculkan cara pandang pembelajaran REALs (Reach Enviroments for Active Learning) yaitu pentingnya menjangkau lingkungan melalui pembelajaran secara aktif. Pendekatan REALs mendorong pentingnya konteks autentik dan mendorong pentingnya pertumbuhan tanggung jawab bagi peserta didik, juga inisiatif, pengambilan keputusan, dan pembelajaran hingga ke lingkungan ataupun konteks internasional.

Di era digital, perancang aplikasi komputer mewadahi teori belajar Konstruktivisme dengan menyediakan forum diskusi, unggah tugas ke dalam blog, kerja kelompok dalam dunia maya. Demikian pula model pembelajaran campuran antara tatap muka dan tatap maya (blended learning) mengakomodasi penerapan teori belajar Konstruktivisme. (en.wikipedia.org) .

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: