Tokoh-Tokoh Pengabdi Tanpa Pamrih

Malam itu tak ada latihan kuntao, pencak, atau silat.
Kiai Khudlori guru mengaji kami biasa tiap malam Jumat memberikan pelajaran kuntao kepada kami, yaitu sehabis kami para murid-murid bersama mengadakan perjanjen. Perjanjen ialah beramai-ramai membaca Kitab Barzanji, sebuah buku prosa dalam sastra Arab yang indah karangan Ja’far Al-Barzanji, yang memuat kisah Nabi Besar Muhammad Saw yang amat mengasyikkan. Secara berganti-ganti kami masing-masing mendapat giliran membacanya hingga satu ‘ath-thiril, satu bab.
Perjanjen ini merupakan barometer sampai di mana mahirnya seorang santri. Di kampung kami setiap pemuda yang sok kampiun bisa diukur hingga di mana bagus bacaannya ketika perjanjen. Anak yang jempolan memang memperoleh kesempatan memperlihatkan kebolehannya membaca sastra Arab dengan suaranya yang merdu dan iramanya yang asyik.
Tapi sebaliknya, anak-anak yang sok alim bisa keluar keringat dinginnya kalau saja mendapat giliran membaca. Anak yang nakal suka membuat mati kutu pemuda yang sok ini dengan cara menyodorkan Kitab Barzanji untuk menerima giliran membaca. Tapi anak yang suka sok ini pintar juga menutupi malunya dengan minta permisi karena tenggorokannya katanya lagi sakit. Orang juga pada senyum kecut, tahu bahwa ini cuma sekadar hilah saja.
Malam Jum’at itu tidak diadakan latihan pencak silat, tapi Kiai Khudlori minta agar perjanjen tetap diadakan walaupun cuma awwal-akhir, diambil bagian awal dan akhirnya saja dengan asyrakal1 di tengah-tengah. Tak baik malam Jum’at tidak perjanjen, kata beliau.
Hari-hari biasa tiap malam, kecuali malam Jum’at, Kiai Khudlori memberi pelajaran kepada murid-murid mengaji kitab. Istilah mengaji kitab diartikan mempelajari kitab-kitab Agama Islam dari macam-macam vak, misalnya fiqh, aqidah, akhlak, dan kadang-kadang nahwu-sharaf. Mengaji kitab lazimnya dilakukan oleh anak-anak yang sudah tamat belajar membaca Al-Qur’an dengan baik, kadang-kadang hingga 3 kali menamatkan.
Tamat membaca Al-Qur’an merupakan peristiwa yang sangat penring bagi tiap anak, biasanya lalu diadakan upacara dengan hidangan slametan, namanya khataman. Dalam khataman ini, si anak didandani pakaian bagus-bagus, ia membaca Al-Qur’an bagian yang akhir dimulai dari Surat Wa ad-dhuha. Membaca demikian memerlukan mental yang kuat karena di hadapannya hadir para guru-gurunya, tamu-tamu undangan, dan teman-teman sepengajian.
Aku masih ingat betul bagaimana gembiraku ketika Ayah memberi aku hadiah uang satu rupiah (logam perak) sehabis upacara khataman. Temanku si Ikhsan pernah diberi hadiah dari ayahnya uang seringgit (Rp2,50). Maklumlah ia anak orang kaya.
Jika sembahyang maghrib berjamaah telah selesai, Kiai Khudlori memberi pelajaran sorogan, semacam privat-les, masing-masing anak mempunyai balagh sendiri. Jadi tidak sama kitab bacaannya. Kiai Khudlori dibantu oleh murid-muridnya yang sudah senior untuk mengajar sorogan bagi kami yang masih junior ini. Ada yang mengaji vak fiqh misalnya kitab-kitab Safinah, Riyadh al-‘Badi’ah, Taqrib. Ada yang vak aqaid seperti Qathr al-Ghaits, ‘Aqidat al-‘awwam, Jauharah at-Tauhid. Ada juga vak lain misalnya Sullam at-taufiq dan Bidayah.
Semua dalam bahasa Arab. Bayangkan, kalau yang datang mengaji 20 anak yang masing-masing kebagian waktu 15 menit. Padahal lepas waktu isya biasanya kiai masih memberikan pelajaran pada pengajian orang-orang tua. Tidaklah heran kalau anak-anak yang belum dapat giliran, diberi tugas memijat-mijat kiai secara berganti-ganti. Yang lain mendapat tugas menyediakan secangkir kopi panas dengan jadah goreng.
Malam Jum’at yang aku ceritakan ini tidak ada latihan pencak silat, disebabkan karena Kiai Akhmad Syatibi akan membaca Manaqib Syekh Abdul Qadiral-jailaini di langgarnya di kampung Karangbangkang, 300 m sebelah selatan langgar Kiai Khudlori yang terletak di kampung Kauman. Kiai Khudlori akan hadir di sana bersama santri-santrinya. Membaca kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini lazimnya disebut manakiban.
Dalam manakiban ini dibacalah kitab kisah Syekh Abdul Qadir al-Jailani, seorang waliyullah yang paling kenamaan, Sulthan al-Aulia, lahir pada tahun 471 Hijriah dekat Baghdad. Sejarah orang besar ini dibaca orang untuk membangkitkan jiwa agar menjadi lebih dekat dengan Allah SWT, karena sejarah kebesaran ini akan menanamkan kebesaran himmah dan karakter pada orang yang membacanya. Dalam saat-saat duka dan suka, orang gemar membaca manakiban, agar dijauhkan dari sikap putus asa di saat sulit dan tidak menjadi lupa daratan manakala ada dalam suasana suka dan senang.
Biasanya, dipilihlah di antara para kiai yang paling disegani dan terpandang, paling tua segala-galanya, tua usianya dan tua pula ilmu dan akhlaknya. Malam itu Kiai Akhmad Syatibi yang diminta untuk membaca manakiban. Dipilihnya kiai ini untuk membaca manakiban sangatlah tepat. Selain disegani, cara membaca dan menguraikan artinya selalu amat mengesankan. Bahasanya mudah diterima, tekanan suaranya enak didengar, konon sejak beliau masih belajar dan mukim di Makah terkenal amat fasih lisannya. Maka itu, beliau pulalah yang dipilih membaca kitab-kitab raksasa dalam Pengajian Khusus para kiai sebulan sekali.
Kalau ada jenasah dimakamkan, maka para keluarga si mayit merasa sangat berbahagia jikalau yang membaca talqin di samping pusara adalah Kiai Syaribi. Talqin dibaca dalam nada sangat rendah, seolah beliau sedang menasihati anak didik yang paling disayangi dalam menghadapi perjalanan sangat jauh. Suasana sekeliling kuburan menjadi sangat hening, penuh kesyahduan. T
erbayanglah pada fantasi kami seolah si jenasah sedang duduk bersimpuh mendengarkan nasihat Kiai Akhmad Syatibi kata demi kata. Bagian-bagian talqin yang dibacanya paling mengesankan ketika Kiai Akhmad Syatibi sampai pada bagian ini:
“Duhai saudara tercinta Fulan bin Fulan! Kini telah saudara tinggalkan kehidupan dunia yang fana, saudara telah memasuki kehidupan akhirat yang kekal. Jangan lupakan bekal yang saudara punyai sejak di dunia, yaitu Dua Kalimah Syahadat. Saudara kini mengalami sendiri, bahwa mati adalah suatu kenyataan, bahwa kehidupan alam kubur memang benar ada. Nanti saudara juga akan saksikan sendiri bahwa masing-masing orang akan memperoleh balasan amalnya, yang baik memperoleh pahala dan yang buruk akan memperoleh siksanya. Saudara, sebentar lagi saudara akan kedatangan dua malaikat yang sangat perkasa, sangat dahsyat sikapnya dengan bentakan-bentakan suaranya yang menakutkan. Tetapi ingat saudara, mereka itu cuma makhluk Allah seperti kita. Dari itu pesanku, hadapilah mereka dengan ketabahan dan ketenangan, jangan gemetar dan takut. Jawablah pertanyaan-pertanyaan mereka dengan pasti tanpa ragu-ragu. Katakan, bahwa Tuhan saudara cumalah Allah, bahwa Nabi saudara cumalah Muhammad Saw, bahwa Agama saudara cumalah Islam, bahwa kiblat saudara hanyalah Ka’bah, bahwa pemimpin saudara hanyalah Al-Qur’an, bahwa semua orang Islam, baik prianya maupun wanitanya adalah saudara kita…!”
Semuanya yang hadir mengelilingi kuburan serentak jongkok sambil menengadahkan dua tangannya tatkala Kiai Akhmad Syadbi sampai pada doanya Tsabbataka Allah bi al-qaul ats-sabit Semoga Allah tetapkan saudara dengan ucapan yang pasti! Doa itu diakhiri dengan ucapan selamat jalan:
“Hai roh yang tenang, pulanglah kau menghadap Allah, Tuhanmu, dengan memperoleh keridhaan, masuklah dalam golongan hamba Allah yang baik-baik dan masuklah ke dalam sorga-Nya yang kekal kenikmatannya…!”
Begitu mempesonakan, begitu mengesankan!
Kami yang hadir di sekeliling kuburan terasa ikut bahagia, memberikan ucapan selamat jalan kepada jenasah yang kami cintai ini dengan hati ikhlas dan air mata berlinang! Ketika aku datang di malam manakiban pada malam Jum’at itu, aku datang untuk mengantar Ibu menghadiri manakiban Kiai Akhmad Syatibi. Ketika aku tiba di sana, gemuruhlah suasana hadirin-hadirat membacakan kalimat-kalimat Allahumma unsyur nafahati ar-ridhuwan ‘alaihi…, Manakiban sudah dimulai.
Kiai Akhmad Syatibi duduk di tengah-tengah hadinn di atas alas kulit domba yang berbulu untuk menghangatkan badannya yang sudah tua. Walaupun hadirin sangat meluap memenuhi ruangan langgar hingga di halamannya, namun mereka sangat tertib dan hening. Bacaan kiai diikuti kata demi kata dan kalimat demi kalimat.
Walaupun berbahasa Arab namun rasanya hadirin seperti dapat mengikutinya, walaupun tidak paham sama sekali bahasa ini. Jika bacaannya sudah sampai satu fasal, Kiai Akhmad Syatibi menyalinnya dalam bahasa daerah dan diartikan maknanya, dengan demikian hadirin lebih terpesona dan sangat tertarik dibuatnya. Zaman itu belum ada pengeras suara, tapi aneh suara Kiai Akhmad Syatibi sangat jelas kedengarannya.
Diceritakan bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani sangat mencintai ilmu, sebab itu beliau pergi ke berbagai pelosok negeri untuk berguru kepada puluhan ulama di zamannya, di bidang Fiqh, ‘Aqaid, Tafsir, Adab, Ilmu Thanqat, dan sebagainya. Pelajaran yang diselami puluhan tahun diperoleh dari guru-guru besar yang terkenal di zamannya dan mempunyai urutan yang bersambung dan misalnya Al-Qadli Abi Sa’id al-Mubarak bersambung pada Syekh Abi Hasan ‘All bin Abi Yusuf al-Quraisyi hingga Abil Qasim Junaidi al-Baghdadi hingga Abu al-Hasan ‘Ali Ar-Ridla, Musa al-Kazim, Ja’far as-Shadiq sampai kepada Muhammad al-Baqir dan Zainal ‘Abidin yang langsung dari Sayyidina AH, di mana yang belakangan ini memperolehnya dari Rasulullah Saw. Ucapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang sangat terkenal di antaranya: “Tidak layak bagi seorang guru yang hendak mengajarkan ilmunya kepada orang banyak sebelum menguasai kebijaksanaan 3 perkara, pertama: ‘ilmu al-‘ulama (pengetahuan ukuran ulama), kedua: siyasat al-muluk (pengetahuan politik raja-raja), dan ketiga: hikmat al-hukama (hikmat kebijaksanaan para hukama).”
Pada suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani sedang bermunajat kepada Allah SWT. Tiba-tiba tempat sekelilingnya memancar suatu cahaya amat menyilaukan. Datanglah suara memanggil namanya:
“Hai Abdul Qadir, akulah Tuhanmu, aku datang kepadamu untuk menyatakan bahwa kini aku telah menghalalkan segala yang tadinya aku haramkan!”
Mendengar itu Syekh Abdul Qadir al-Jailani berteriak dan membentak dengan suaranya lantang: Ikhsa’ Ya La’iten! Keparat kau setan, enyah kau dari mukaku! Seketika itu padamlah cahaya yang menyilaukan.
Datanglah suara merintih, katanya: Ampuni aku ya Syekh, Tuan telah terhindar dari godaanku. Aku sengaja menggoda orang-orang yang mengaku ahli tarikat tetapi bodoh tak berilmu. Tetapi Tuan telah lulus dari godaanku karena Tuan memiliki ilmu. Kerika ditanyakan mengapa Syekh Abdul Qadir al-Jailani tahu bahwa suara itu suara setan, dijawab: Ucapannya sendiri “aku telah menghalalkan segala yang tadinya ku-haramkan”. Itu terang ucapan setan, sebab hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah tak mungkin jadi dihalalkan! Allah tak mungkin menyuruh hamba-Nya mengerjakan hal-hal yang diharamkan.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani begitu mendekatkan dirinya kepada Allah, baik di waktu sendirian maupun di hadapan orang banyak. Tingkat mendekatkan diri sedemikian tingginya hingga mencapai 20 tingkatan. Muraqabah Ahadiyah, Muraqabah Ma’iyyah, Muraqabah Aqrabiyyah, Muraqabah Wilayatul”Ulya, Muraqabah Mahabbah, Muraqabah Kamalatin Nubuwwah, dan seterusnya. Di kala sembahyang, lama sekali bersujud. Sujud adalah meletakkan dahi, lambang kehormatan seseorang untuk diletakkan di tempat yang serendah-rendahnya. Waktu sujudlah saat sedekat-dekatnya seorang manusia kepada Allah SWT.
Tidak lupa Kiai Akhmad Syatibi menceriterakan dalam manakiban, bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani sangat senang bergaul dengan rakyat jelata golongan fakir miskin. Orang-orang miskinlah sahabatnya. Dihiburnya orang-orang ini bahwa orang miskin yang sabar lebih utama daripada orang kaya yang syukur. Kesabarannya inilah yang akan membentengi iman di dadanya. Sebab, tanpa kesabaran, akan mudah tergelincir imannya, sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad Saw: Hampir saja kemiskinan menjerumus pada kekafiran!
Dianjurkan agar di saat susah dan duka, orang harus mempertinggi harapan atau optimisme agar ia tetap sabar. Sebaliknya di kala menjumpai kesenangan supaya membayangkan datangnya kesusahan agar dengan demikian ia selalu bersyukur.
Dianjurkan agar orang selalu membersihkan dirinya dengan sifat-sifat yang mulia dan melakukan ibadah seperti yang diperintahkan oleh Allah. Sebab orang yang batinnya kotor, makan yang haram, omongannya rusuh, ditambah lagi tak pernah melakukan sembahyang, tak mungkin ia bisa dekat dengan Allah. Tak patut bagi seseorang hendak mendekatkan dirinya kepada Allah, padahal ia belum membersihkan dirinya dan dosa-dosa.
Dikisahkan, ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani berada dalam perjalanan, datang seorang menyerahkan sekantong pundi-pundi berisi uang penuh, karena sangat kasihan melihat Syekh yang sedang dalam kesulitan perjalanan. Tetapi beliau hanya mau mengambil 1/2 dirham (satuan uang logam paling kecil) sekedar untuk membeli sepotong roti kering. Sisanya dikembalikan kepada pemiliknya. Begitu roti yang dibeli dari uang pemberian itu hendak dimakan, beliau mendengar suara, mengapa seorang yang selalu muraqabah kepada Allah masih juga memiliki syahwat, pamrih atas pemberian orang. Beliau merasa malu pada dirinya sendiri dan kepada Allah SWT. Seketika roti tak jadi disantapnya.
Salah satu watak Syekh Abdul Qadir al-Jailani, beliau tidak pernah silau memandang orang kaya karena kekayaannya. Semua orang dalam pandangannya harus dihargai bukan karena uangnya. Barang siapa merendahkan diri dihadapan orang kaya karena uangnya, ia akan kehilangan dua pertiga kehormatan agamanya. Beliau mengkritik orang-orang alim yang gemar mengunjungi pembesar untuk kepentingan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani semakin tinggi martabatnya dalam pandangan orang banyak Itulah sebabnya mengapa khalifah di Baghdad senang mengunjungi beliau di kediamannya untuk memperoleh nasihat dan petunjuk-petunjuk. Penguasa yang baik akan tahu segala yang baik.
Alhasil, Syekh Abdul Qadir al-Jailani seorang Waliullah (Wali Allah), bahkan Sulthan al-A.ulia? Seorang yang benar-benar telah menduduki maqam ‘abdiyyah (mendudukkan dirinya hamba Allah yang sebenar-benarnya), jauh dan sifat-sifat hamba harta, hamba kedudukan, hamba kehormatan, hamba kemewahan hidup, dan hamba-hamba nafsu.
Memiliki sifat-sifat ketuhanan dan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul, para sahabat dan ulama-ulama.
Ajaran-ajarannya hanyalah memurnikan Tauhid dengan meresapi rahasia-rahasia yang lembut tanpa meninggalkan ilmu syari’at sebagai yang digariskan oleh Rasulullah Saw.
Allahuma unsyur nafahati ar-ridhwan ‘alaihi Wa amiddana hi al-ashrari allati auda’taha ladaihi!
Ya Tuhan, bentangkan harum semerbak keridhoan-Mu pada Syekh ini, tolong bantulah kami dengan rahasia-rahasia yang Kau titipkan padanya…!
Dari napas ajaran orang arif besar yang mewarisi syari’at Nabi Muhammad ini, tolong dekatkan kami pada buah hasil tanamannya yang suci untuk bekal kami berbakti kepada-Mu. Tolonglah kami tentang permohonan-permohonan kami, mudahkan keinginan dan cita-cita kami, tanamkan di dada kami kemauan-kemauan yang luhur, amankan kami dari segala yang kami takutkan, tutupi rapat-rapat cacat kami, lunasi segala hutang kami kepada-Mu. Ya Tuhan, mohon segala sangkaan kami yang baik menjadi kenyataan, hilangkan segala penghalang yang menghambat kami, singkirkan segala kesedihan dan kesusahan kami. Mohon ampuni segala dosa kami, tolong Ya Tuhan, berilah kami segala kesudahan yang baik. Amin!
‘Ihadallah Rijalallah, Aghitsuna li ajlillah, Kunu ‘aunana lillah, ‘Asa nabzha bi fadh lillah…!
Dengan beramai-ramai membacakan doa ini, manakiban diakhiri pada jam 1 tengah malam. Tentu aku tak bisa ceritakan semua isi kitab yang dibaca oleh Kiai Ahmad Syatibi. Pokoknya sangat mengasyikkan, amat berkesan. Berhari-hari tak kunjung habis orang membicarakan kisah-kisah yang ada dalam manakiban, di serambi masjid, di langgar-langgar, di madrasah, dan tentu saja di kalangan klub tukang gunting rambut Abdulbasir! Masing-masing dengan daya tangkapnya, dan masing-masing dengan komentarnya.
Tak keringgalan orang memuji-muji Kiai Akhmad Syatibi. Tidak cuma lantaran cara membacanya begitu fasih, jelas, dan sangat mengesankan, tetapi tokoh ini dipandang sangat tepat membawakan pribadi Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Orangnya begitu andap-asor, rendah hati dan tawadhu sekalipun beliau orang yang terpandang paling banyak dan dalam ilmunya. Wajahnya selalu sumeh, hingga di kalangan masyarakat kami sekampung terkenal suatu pomeo bahwa: orang yang tak bisa marah adalah Kiai Akhmad Syatibi. Bukan saja demikian, orang yang belum mengenalnya akan menyangka beliau adalah tipe orang bodoh. Jika saja menerima pertanyaan yang berhubungan dengan ilmu, beliau lebih banyak memperlihatkan “kebodohannya” dengan selalu saja jawabannya yang paling ter-
kenal: Lha niku tah kula mboten ngertos! (Tentang itu saya tak tahu). Tapi kalau sudah didesak dan didesak, barulah keluar mutiara-mutiara yang tersimpan dari kepalanya yang mulia, Semua orang amat senang dan sangat menghormati beliau, demikian pula semua orang merasa dihormati oleh beliau.
Tiap-tiap habis sembahyang subuh berjama’ah, beliau mengajar murid atau santri-santrinya hingga kurang lebih selesai pukul 8 pagi. Seperti sudah rutin saja, sekitar pukul 9 beliau pergi ke pasar untuk jualan. Dagangan yang dijual ialah perabot dapur, ada tampah, kipas, sapu, kukusan, dan segala benda perlengkapan dapur. Beliau berjalan
mengenakan caping (topi terbuat dari anyaman bambu seperti lazim dipakai petani di sawah), baju piama, dan sarung yang diangkat lebih ringgi. Di belakang beliau, puteranya yang laki-laki bernama Kiai Hisyam Zaini memikul barang-barang dagangannya. Kiai Hisyam Zaim ini merupakan asisten beliau kalau sedang mengajar santri-santri. Sekira pukul 12 begitu, sepasang bapak dan anak ini pulang dari pasar karena pukul 2 siang mengajar lagi hingga petang. Malam disambung lagi mengajar santri-santri hingga jauh malam. Demikianlah kerja rutin Kiai Akhmad Syaribi. Waktunya hampir habis untuk diabdikan kepada agama dan ilmu.
Orang yang menyaksikan Kiai Akhmad Syaribi pergi dan pulang pasar selalu saja mengelus dada, ada rasa kasihan melihat cara beliau mencari rezeki untuk nafkah anak istri. Berkali-kali masyarakat rnemohon supaya beliau menghentikan pekerjaannya jualan di pasar, biarlah masyarakat bergotong-royong menanggung kebutuhan nafkahnya sehari-hari. Tapi apa jawab beliau? Mengapa aku harus menghentikan usaha yang mulia ini? Bukankah kerja yang paling mulia segala yang keluar dari jerih tangannya sendiri? Apa salahnya jualan benda-benda ini, bukankah ini cara yang halal? Aku malu kepada Allah jika menjadi beban orang lain.
Kiai Akhmad Syatibi adalah profil seorang ulama yang sangat tawadhu, rendah hari. Beliau terkenal ‘allamah, orang paling berilmu. Tapi selalu saja menampilkan kiai-kiai lain kalau orang datang hendak belajar. Orang yang mau belajar Ushul fiqh dan Hadits, dipersilakan supaya belajar pada Kiai Akhmad Bunyamin. Kalau mau belajar Tafsir dan Tasawuf dipersilahkan datang kepada Kiai Raden Iskandar. Mau memperdalam bahasa Arab dipersilahkan datang kepada Kiai atau Ustadz Mursyid. Adapun kalau hendak belajar Nahwu dan Sharaf, pergilah kepada Kiai Khalimi. Begitu seterusnya.
Mau tak mau mestilah belajar Nahwu-Sharaf kalau mau bisa baca kitab gundul .Berbeda dengan Al-Qur’an semua orang bisa baca, asal sudah menguasai alfabet atau abjad Arab dengan segala karakternya. Itu pun masih harus belajar Tajwid dan Qiraat. Lain halnya untuk bisa membaca kitab gundul, mestilah belajar nahwu-sharaf agar tahu fungsi akhiran dan permulaan kalimat, dan bagaimana mesti dibaca. Ini baru pasal bisa membaca, belum
pasal mengertinya, artinya, mengerti apa yang dibaca, maknanya dan artinya. Harus belajar bahasa Arab. Belajar bahasa asing memang susah, memerlukan ketekunan. Selain otak harus dicuci, mulut pun harus diajar bagaimana mengucapkannya.
Kiai Khalimi terkenal sebagai kiai spesialis nahwu-sharaf. Di pesantrennya, belajar bukan hanya anak-anak sekampungku, tetapi juga dari lain-lain daerah. Belajar di sini menyenangkan. Anak-anak dari luar daerah sering terima paket kiriman dari kampungnya, ada jadah dan dodol, wajik atau tape, dan lain-lain makanan yang bisa tahan beberapa hari. Tentulah tidak dinikmati sendirian, kami ramai-ramai mengganyangnya hingga ludes. Tentu Kiai Khalimi tidak dilupakan, beliau menerima lebih dulu. Kiai pun tak menikmati sendirian, kami dipanggilnya untuk ikut mengganyangnya. Jadi kami beruntung sekali, bisa mengganyang dua kali.
Kami senang belajar di Pesantren Kiai Khalimi ini. Waktu malam hari setelah pulang dari madrasah. Ilmu nahwu dan sharaf memang menjemukan, memerlukan pemikiran yang serius. Tapi menarik hati. Banyak hal-hal yang baru dari kajian ini. Anak-anak tingkat permulaan memakai pedoman Kitab Al jurumiyah, lalu bersambung ‘Imrithi danlebih tinggi lagi Alfiyah, ini dia sudah golongan jempolan, membaca kitab gundul sudah ndlendeng saja, meluncur seperti sepeda tanpa rem.
Ada yang lebih menarik belajar di pesantren Kiai Khalimi ini. Orang bilang Kiai Khalimi ini orangnya blater, banyak kreasi dan dinamis. Pandangannya jauh menembus ke depan. Santri-santri yang belajar di sana dibiasakan berbahasa “Melayu” dalam percakapan sehari-hari. Santri-santri harus jadi orang pergerakan, katanya. Sebab itu dalam pesantren diadakan Taman Bacaan. Kecuali buku-buku keluaran Balai Pustaka, terdapat juga majalah dan surat-surat kabar. Buku Tiga Orang Panglima Perang, cerita petualangan D’Arstagnan-Portos-Athos, begitu juga buku Si Midun, Sengsara Membawa Nikmat, aku pertama kali baca di sana. Macam-macam majalah dalam negeri terdapat juga di sana, bahkan Al-Hilal dan Al-Mushawwar dari Kairo pun ada juga.
Bukan cuma itu saja. Kiai Khalimi memberikan pelajaran keterampilan kepada santri-santrinya di samping pelajaran pencak silat. Beliau terkenal pendekar Cikalong, artinya,pencak aliran Jawa Barat. Di kampung kami masalah pencak-memencak ini cuma terkenal aliran Banjarnegara dan aliran Josremo, setelah datangnya santri baru berasal dari Surabaya, namanya Mas Muhajir putera Kiai Josremo. Jika saja anak-anak sedang latihan pencak, Kiai Khalimi suka mengejek dengan memegang batu di tangannya sambil katanya:
“Bisa nggak tangkis batu ini kalau aku lemparkan?” Maksudnya mendidik anak-anak biar jangan sok jagoan. Belajar pencak bukan untuk berlagak sok jago, cari musuh, tapi sekadar persiapan untuk membela diri jika perlu, katanya.
Dalam pelajaran keterampilan, anak-anak diberi tuntutan macam-macam. Belajar jahit-menjahit, bengkel sepeda, gunting rambut, mengetik, membuat leter (Kaligrafi), melukis, membuat kecap dan sirup. Itu waktu memang aneh sekali dan bahkan janggal, mengapa diadakan pelajaran keterampilan. Kadang-kadang kami berpikir di tengah pelajaran ini, kita ini sedang berada di pondok pesantren atau di tempat perusahaan? Tapi Kiai Khalimi selalu tandas jawabnya: He, ini penting. Supaya kaum santri jangan cuma berkeinginan mengambil menantu orang kaya! Maksudnya tentu saja agar kelak kami tidak menggantungkan hidup kami kepada orang lain. Aku memang tidak begitu tertarik pada pelajaran buat-membuat kecap dan sirup atau lainnya. Barangkali saja kalau ketika itu aku tertarik, siapa tahu sekarang sudah jadi direktur pabrik kecap!
Kiai Khalimi, biar sudah kiai, belau rajin mengunjungi tukang gunting rambut Abdulbasir. Beliau salah satu anggota klub ngobrol di sana. Gemar berkumpul dengan para pemuda. Beliaulah yang mula-mula menganjurkan agar kami para pemuda membiasakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, kami dianjurkan membiasakan memakai
pantalon kalau menghadiri pertemuan-pertemuan. Tapi mengherankan, beliau sendiri tak pernah memakai pantalon, celana panjang. Selalu saja pakai sarung plekat dengan sorbannya. Kalau ditegur, maka jawabnya: “Aku menyadari, aku ini tak punya pantat, kalau berjalan ngiplik (langkahnya pendek-pendek). Sebab itu, kata beliau, aku merasa tak pantas pakai pantalon. Biarlah aku tetap bersarung agar tak jadi tertawaan!” Konon kabarnya, selama hidup beliau tak pernah memakai pantalon. Tapi beliau selalu menganjurkan para pemuda berpantalon. Santri harus kelihatan rapi!
Lain lagi yang menarik dari kiai ini. Beliau dikenal sebagai ahli falak. Kami harus membuat Ruhu, lingkaran 90 derajat terbuat dari kayu dengan garis-garis rumus. Untuk mengetahui hari dan tanggal, diceritakanlah jalannya planet-planet serta jarak antara satu dengan lainnya. Di mana letak bumi kita, ardh, matahari (syams),rembulan (qamar), bintang
mars (marikh), venus (zuhrah), saturnus (zuhal) dan sebagainya. Amatlah menarik kalau sedang menerangkan betapa besar dan dahsyat matahari, begitu jauh jaraknya, dan begitu hebat energinya. Satu ketika seorang santri memberanikan bertanya, dari mana kiai belajar falak ini? Dijawab: Tentu dari guru-guru saya. Tapi yang jelas semua ini dari Al-Qur’an. Ketika orang-orang Eropa masih bodoh dan tidur, orang-orang Islam sudah mahir ilmu falak. Orang Islam berkepentingan belajar falak karena orang Islam berkewajiban menjalankan sembahyang dan puasa Ramadhan. Untuk sembahyang harus mengetahui letak Ka’bah, dan untuk berpuasa Ramadhan harus mengetahui kapan kira-kira memulai dan mengakhiri puasa.
Sekadar untuk menggunakan rukyat sebagai yang diajarkan Nabi Besar Muhammad Saw.
Kami tergabung dalam ikatan mubaligh, namanya Nashihin, yaitu setelah di kampungku berdiri Nahdhatul Ulama. Tiap malam Selasa para mubaligh dibagi untuk mengunjungi beberapa desa. Kiai Khalimi tidak ketinggalan. Kami membuat kelompok, masing-masing 2 atau 3 orang mubaligh. Tentu saja umumnya berkendaraan sepeda. Kelompok paling “celaka” kalau di dalamnya termasuk kiai ini. Sebabnya, pertama: beliau tak pandai naik sepeda, dan kedua: beliau tak pernah mau membonceng sepeda, saru atau tidak pantas katanya. Lebih baik jalan kaki. Mau tak mau yang lain-lain solider jalan kaki. Berapa kali dianjurkan agar belajar naik sepeda, namun beliau tak mau. Mengapa? Biar saudara mengerti bahwa semua orang mempunyai kekurangan dan cacat. Cuma Nabi saja yang tak
punya cacat, begitulah jawabnya. Yang menarik perhatian lagi adalah rokoknya. Beliau selalu mengisap rokok cengkeh, yang menurut anggapan masyarakat di kampungku rokok priyayi. Kadang-kadang rokok putih. Bukan rokok klembak-menyan. Anak-anak kadang-kadang nyeletuk: “Priyayi kok tidak bisa naik sepeda…!‖


 

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: